29 September 2020, 22:42 WIB

Punya Banyak Pasukan, BKKBN Jadi Koordinator Cegah Stunting


mediaindonesia.com | Humaniora

PENTEPAN Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai penanggungjawab utama dalam program penanggulangan stunting (kekerdilan pada anak) disampaikan Presiden secara langsung dan lisan kepada Kepala BKKBN Hasto Wardoyo.

Mendapat mandat tersebut, BKKBN segera melakukan serangkaian pertemuan di antaranya dengan jajaran Kantor Wakil Presiden dan Kementerian Keuangan. 

"Dalam penanganan stunting, BKKBN menjadi  koordinator yang diarahkan di tingkat lapangan," kata Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dwi Listyawardani dalam acara webinar series Jangan Tua Sebelum Kaya, Selasa (29/9).

Salah satu pertimbangan dari penunjukan tersebut yakni kemampuan 'dobrak' lembaga yang memiliki pasukan lapangan cukup banyak. Perempuan yang karib disapa Dani ini mengatakan BKKBN memiliki 14 ribu Petugas Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB/PKB) dari unsur ASN (Aparatur Sipil Negara) dan anak 10 ribu petugas non-ASN. 

Menurut Dani, nantinya BKKBN akan lebih fokus menggarap kegiatan penanggulangan stunting yang belum sepenuhnya tersentuh.

"Gap yang belum terselesaikan, akan menjadi perhatian kita. Terutama mendampingi remaja, dan juga keluarga," ujar Dani.

Ketika melakukan pendampingan, petugas BKKBN akan memastikan kehamilan itu benar-benar direncanakan. Sehingga akan lahir anak yang sehat.

"Dengan pendampingan ini, diharapkan tidak ada lagi ibu yang memiliki risiko melahirkan anak yang tidak sehat yang berisiko stunting," jelas Dani.

Baca juga: BKKBN Targetkan Layani 250 Ribu Akseptor KB

Pemerintah menargetkan kasus stunting yang saat ini mencapai angka sekitar 27% dapat ditekan menjadi 24% pada 2020 dan turun lagi menjadi 14% pada 2024. 
 
Dani pun lantas merinci beberapa penyebab terjadinya risiko stunting, seperti menikah muda. Sekitar 30-35% kasus stunting pada anak, dilahirkan oleh wanita yang menikah di usia muda.

"Menikahlah di usia 21 tahun agar melahirkan anak yang sehat," ajak Dani kepada anak muda.
 
Penyebab stunting lainnya adalah jarak kelahiran. Dalam berbagai penelitian, ucap Dani, ada korelasi kuat antara jarak kelahiran dan stunting. Untuk itu, BKKBN mengajak keluarga untuk menjaga jarak kelahiran minimal tiga tahun antar satu anak dengan anak berikutnya.

Dani pun mengingatkan agar para ibu memperhatikan 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Suatu periode kehidupan bayi sejak dalam kandungan hingga dua tahun menyusui.

Pandemi dan Stunting

Melihat kondisi pandemi, Dani menyebut ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi upaya penurunan kasus stunting. Hal ini dikarenakan daya beli masyarakat menurun, sehingga banyak keluarga mulai kesulitan ekonomi.

"Mereka menjual simpanannya seperti emas. Atau mulai makan dari tabungan. Belum lagi munculnya kasus depresi dan stres," tuturnya.

Pun, dengan meningkatnya kasus perceraian dan kerenggangan hubungan antar suami-istri karena masalah ekonomi, termasuk kawin muda atau tradisi menikah muda.

Untuk itu, BKKBN akan melakukan intervensi terhadap penghambat-penghambat tersebut melalui program terobosan. Salah satu program yang akan menjadi fokus kedeputiannya (Pengendalian Penduduk) adalah mengawal pertumbuhan penduduk agar tetap terjaga pada posisi Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS) dengan rata-rata "total fertilitas rate" (TFR) berada di angka 2,1. 

"Seimbang bisa membuat keluarga menjadi berkualitas. Seimbang dalam banyak hal, ekonomi dan lainnya," ungkapnya.

Di sisi lain, Dani menyampaikan jika generasi "baby boomers" masih "menguasai" banyak aspek kehidupan bernegara. Sehingga, harus ada kesinambungan antargenerasi agar negara terjaga dan berkembang menjadi bangsa yang unggul.

Hubungan antargenerasi harus terjalin baik melalui proses komunikasi yang baik. Pihaknya pun mengembangkan pendekatan "life cycle", mengarahkan penduduk agar memiliki perencanaan kehidupan sebaiknya mulai dari dalam kandungan hingga lansia.

"Jadilah orang tua yang baik, melahirkan generasi sehat dan cerdas. Sehingga akan mewujudkan anak-anak bangsa yang kaya dalam banyak hal," ujar Dani. 

Sementara itu, Rektor Universitas Yarsi Prof Fasli Jalal menggarisbawahi yang dimaksud menjadi "kaya" sesuai tema besar webinar adalah kaya dalam  berbagai indikator seperti agama.

"Tidak selalu indikator sosial ekonomi saja," jelas Fasli yang membawakan tema "Peran Lansia dan Generasi Muda dalam Pembangunan Manusia Menuju Indonesia Emas 2045". 

Webinar ini juga menampilkan pembicara dari Komisaris Perkumpulan Warga Muda Wildanshah dengan membawakan tema "Kontribusi Generasi Muda untuk Mempersiapkan Indonesia Emas 2045".(RO/OL-5)

BERITA TERKAIT