29 September 2020, 13:45 WIB

Gubernur BI Sebut Pandemi Membuat Transaksi Digital Naik


Despian Nurhidayat | Ekonomi

GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa dalam situasi pandemi covid-19 dan adanya keterbatasan mobilitas manusia, sarana digital dalam melakukan transaksi keuangan atau digital banking semakin diminati oleh masyarakat.

“Di balik pandemi memang digitalisasi jadi pilihan model bisnis yang semakin diminati masyarakat. Dalam keterbatasan mobilitas manusia sarana digital jadi pilihan untuk transaksi keuangan,” kata Perry dalam webinar Infobank bertajuk 'Traditional Bank Vs Challanger Banks in The Era Of Open Banking', Selasa (29/9).

Baca juga: Ekonomi Digital Makin Berakselerasi di Tengah Pandemi Covid-19

Menurutnya, hal tersebut tercermin dari data yang dimiliki BI yang mencatat bahwa volume transaksi digital banking naik signifikan sebesar 37,8% (yoy).  Selain itu, uang elektronik pun juga menguat 24,42% yoy. Sementara penggunaan kartu debet malah menurun 18,9% yoy.

Melihat perkembangan tren digitalisasi yang sangat cepat terjadi di sektor keuangan, Perry mengatakan pihaknya menyadari akan kebutuhannya transformasi terhadap perbankan kearah digital dan open banking.

Oleh karena itu, pada Mei 2019, BI meluncurkan blueprint sistem pembayaran 2025 dalam upaya menyiapkan suatu kerangka untuk mengintegrasikan sistem keuangan di Indonesia melalui transformasi digital.

"Kami melakukan digitalisasi pembayaran untuk mengintegrasikan sistem keuangan di Indonesia. Bagaimana ini bisa menyambungkan dari pelaku usaha ke fintech dan lainnya secara end to end proses,” ujarnya.

Selain itu, Perry juga mendorong perbankan untuk melakukan open banking sejak Mei 2019. Ia mencatat saat ini sudah sebanyak 15 bank yang telah melakukan digital banking dan berharap jumlah ini akan bertambah. Ia juga menegaskan bahwa dalam menerapkan strategi open banking, harus bersifat strategic-driven dan juga berasal dari lapisan atas manajemen ke bawah (top-down).

Perry mengatakan pihaknya akan berfokus pada bagaimana menyambungkan interlink antara perbankan dengan fintech melalui open banking dan open application programming interface (API). Juga, bagaimana melibatkan startup dalam mendorong inovasi dalam sektor perbankan  dan memacu proses digitalisasi keuangan.

Perry melanjutkan, bahwa BI akan menyambungkan sistem pembayaran digital domestik dengan crossborder. Dimana salah satunya melalui sistem pembayaran melalui kode QR dari BI (QRIS) dimana tercatat sudah sebanyak 4,7 juta merchant sudah tersambung.  Adapun QRIS akan disambungkan secara crossborder dengan Jepang, India, Saudi Arabia, Malaysia dan lainnya.

“Berkaitan pembangunan infrastruktur retail, kami sedang bangun fast payment retail namanya BI-Fast untuk menggantikan sistem kliring (SKNBI). Ini progres yang kita lakukan sejak 2019 untuk digitalisasi open banking dan lainnya,” pungkas Perry. (Des/A-1)

 

BERITA TERKAIT