29 September 2020, 08:35 WIB

Butuh Peran Swasta untuk Bantu Pelaku Usaha


Mediaindonesia.com | Ekonomi

IKLIM kewirausahaan di dunia bahkan Indonesia mulai mengalami pergeseran. Sebelumnya istilah entrepreneur atau wirausaha begitu terkenal di kalangan masyarakat. Saat ini, istilah entrepreneur mulai tergantikan dengan istilah wirausaha sosial atau social enterprise.

Sudah ada sekitar 100 negara yang telah mengadopsi konsep social enterprise ini dengan 303 kebijakan dan instrumen yang sudah dihasilkan secara global. Hal itulah yang membuat Bank DBS Indonesia fokus menciptakan lingkungan dan bisnis yang berkelanjutan, untuk bergerak bersama wirausaha sosial dalam lima tahun terakhir.

Baca juga: Program Prakerja untuk Ciptakan Wirausaha

Menurut Head of Group Strategic Marketing and Communications, PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, wirausaha sosial merupakan kewirausahaan yang menggabungkan konsep dasar bisnis yaitu mencari keuntungan dengan tujuan atau kewajiban tambahan yaitu membantu lingkungan sosial, dalam hal ini menjawab suatu permasalah yang ada di masyarakat. Suatu kewirausahaan tidak hanya memaksimalkan keuntungan atau pendapatannya, tetapi juga selaras dengan peningkatan manfaat yang diberikan untuk menjawab permasalahan sosial.

Sehingga social enterprise memiliki model bisnis yang efektif untuk mendukung kemandirian, keberlanjutan, dan pengembangan skala dampak sosialnya.
Di Indonesia perkembangan social enterprise mulai menjanjikan. Misalnya, terdapat Yayasan Cinta Anak Bangsa yang telah memberikan akses pendidikan kepada lebih dari dua juta anak-anak tidak mampu. Selain itu, ada Koperasi Mitra Dhuafa yang sudah memberi akses layanan keuangan dasar yang layak kepada lebih dari 600.000 masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah.

“Kami senantiasa fokus dalam mendukung dan memajukan usaha sosial di Indonesia melalui berbagai program mulai dari edukasi, pendampingan, pelatihan bisnis, pendayagunaan hingga pemberian dana hibah," cetus Mona.

"Kami percaya wirausaha sosial merupakan masa depan bisnis, karena selain menjalankan bisnis, mereka juga mampu menciptakan dampak positif sekaligus menyelesaikan isu sosial yang terjadi di masyarakat dalam berbagai aspek. Oleh karena itu, kami berharap dapat meningkatkan kesadaran dan mengedukasi masyarakat Indonesia tentang wirausaha sosial,” imbuhnya.

Dampak yang dihasilkan oleh social enterprise, kata Mona dirasakan semakin besar berkat dorongan dan usaha kumulatif yang diawali oleh peran berbagai pihak melalui dukungan finansial. Misalnya Deputi Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UMKM membuat program bernama Bantuan Pemerintah bagi Wirausaha Pemula bagi social enterprise skala mikro per tahunnya. Bantuan tersebut diberikan kepada 2.500 wirausaha yang beroperasi selama minimal enam bulan dan maksimal tiga tahun dengan pendanaan maksimal Rp12 Juta per usaha.

Itu sebabnya menurut dia dukungan masalah sosial tersebut semakin dibutuhkan ketika penyebaran covid-19 terjadi. Sebab jumlah orang kurang mampu diprediksi akan meningkat hingga 5,71 juta orang dengan pengangguran meningkat 5,23 juta orang. "Ditambah dengan masalah sosial lainnya yang masih menimbulkan tanda tanya besar seperti akses air bersih, lingkungan, penggunaan energi terbarukan, dan masih banyak lagi," ujarnya. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT