29 September 2020, 12:06 WIB

Keluarga Korban Longsor Tarakan Kesulitan Memulangkan Tiga Jenazah


Gabriel Langga | Nusantara

HENDRIKUS Eden warga Dusun Napung Seda, Desa Namang Kewa, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur terlihat sedih di rumahnya. Ia kesulitan keuangan sehingga tidak bisa memulangkan anaknya Krisantus Ariyanto dan dua cucunya Dava dan Davi yang meninggal dalam musibah longsor di Tarakan, Kalimantan Utara yang terjadi Senin (28/9). Dari 11 orang meninggal musibah longsor, tiga di antaranya warga Kabupaten Sikka.

Saat ditemui mediaindonesia.com, Selasa (29/9) di rumahnya, Hendrikus Eden mengaku anaknya pergi merantau ke Tarakan, Kalimantan Timur sejak 2007 bersama istrinya. Anaknya memiliki dua anak berusia 10 bulan.

"Tadi malam saya dapat kabar dari Tarakan bahwa anak saya dan kedua cucu saya meninggalkan dunia akibat longsor di Tarakan. Dua cucu saya itu baru
berusia 10 bulan. Mereka laki-laki semua. Menantu saya selamat. Saya langsung syok dengar kabar mereka meninggal," ungkap Hendrikus.

Ia berencana memulangkan jenazah anak dan kedua cucunya untuk dimakamkan di Sikka. Namun ia belum bisa melaksanakan karena kesulitan keuangan untuk memulangkan jenazah mereka dari Tarakan ke Sikka.

"Saya sekarang lagi berusaha pinjam uang di koperasi. Tetapi saat ini belum ada kabar dari koperasi. Saya sudah cari kemana-mana untuk pinjam uang. Tetapi belum dapat. Saat ini tiga jenazah masih berada di Tarakan," ungkap Hendrikus.

baca juga: Muncul Klaster Perkantoran di Kudus 

Hendrikus berharap Pemerintah yang ada di Tarakan dan Kabupaten Sikka bisa membantu membiayai pemulangan jenazah anak dan kedua cucunya agar bisa dimakamkan di Desa Namangkewa, Kecamatan Kewanpante, Kabupaten Sikka. 

"Saya juga belum dapat uang. Saya mohon bantuan pemerintah agar bisa membantu membiayai pemulangan jenazah dari Tarakan ke Sikka," harap Hendrikus. (OL-3)

BERITA TERKAIT