29 September 2020, 12:05 WIB

Harga Baby Lobster Jatuh, Nelayan Minta HET


Adi Kristiadi | Nusantara

NELAYAN di Pantai Pamayangsari, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, mengalami kerugian cukup tinggi akibat menurunnya harga baby lobster selama hampir dua pekan. Harganya cenderung menurun mulai dari Rp12 ribu, Rp10 ribu, Rp8.000, menjadi Rp3.000 per ekor.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Dedi Mulyadi mengatakan, turunnya harga baby lobster berjenis pasir dan mutiara membuat nelayan mengalami kerugian cukup tinggi. Pasalnya, sekali melaut nelayan menjaring baby lobster tak sebanding dengan hasil penjualannya.

"Kelompok Nelayan Pamayangsari selama ini menangkap baby lobster secara legal sesuai Permen Nomor 12 Tahun 2020. Akan tetapi, menurunnya harga telah membuat nelayan mengalami kerugian sangat besar apalagi kondisi sekarang hujan sudah turun dan dipastikan penghasilan juga akan semakin sulit didapatkan," katanya, Selasa (29/9).

Biasanya dalam semalam, nelayan dapat menangkap 1.000 ekor dan paling sedikit antara 70 sampai 100 ekor. Ongkos yang dikeluarkan terkait solar untuk kapal melaut.

"Biasanya nelayan selama September dan Desember mengalami panen sehingga mereka dapat menjual baby lobster kepada para pengepul untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Para nelayan harus menyiapkan 200 ekor per plastik. Tapi sekarang ada permainan dilakukan oknum yang mengelabui bea cukai hingga nelayan harus menyiapkan 700 ekor per plastik," ujarnya.

Menurutnya, pemerintah harus mengeluarkan regulasi, terutama harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp7.000 supaya perekonomian dan kesejahteraan nelayan meningkat. Soalnya, jika terus menerus harganya tidak sesuai dengan kebutuhan, dipastikan nelayan akan tetap mencari ikan seperti biasa demi menghidupi keluarga.

Kepala Bidang Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Tasikmalaya Rita Setiawati mengatakan, sekarang nelayan di Pantai Cipatujah sudah dua minggu lalu tidak lagi bersemangat mencari baby lobster karena harganya sedang mengalami penurunan. Mereka meminta regulasi terkait harga jual agar adanya kesejahteraan bagi mereka.

"Harga jual sebelumnya Rp12 ribu, Rp10 ribu, Rp8.000, dan sekarang turun ke Rp3.000 tapi memang masih turun dan naik. Kami juga tidak bisa mengendalikan harga itu, karena nelayan langsung berhubungan dengan para pengepul dan pengusaha. Jika ada regulasi dari pemerintah dipastikan mereka bisa meningkatkan perekonomian bagi para nelayan," pungkasnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT