29 September 2020, 11:42 WIB

Pertempuran Azerbaijan-Armenia Berlangsung Sengit di Hari Kedua


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

PERTEMPURAN sengit yang meletus, Minggu (27/9), antara pasukan militer Azerbaijan dan Armenia atas wilayah Nagorno-Karabakh yang disengketakan berlanjut semalaman hingga Senin (28/9) pagi waktu setempat.

Kematian militer dan warga sipil telah dilaporkan dari kedua sisi, dalam eskalasi kekerasan terburuk sejak 2016.

Sebagian besar komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat (AS), Rusia, Iran, dan kekuatan Eropa, telah menyerukan diakhirinya permusuhan dan dimulainya pembicaraan.

Baca juga: DK PBB Gelar Pertemuan Darurat Bahas Armenia-Azerbaijan

Pertempuran meningkat tajam pada Senin (28/9) antara Azerbaijan dan daerah kantong pegunungan etnik Armenia di Nagorno-Karabakh.

Kedua belah pihak saling menyerang dengan roket dan artileri dalam putaran paling sengit dari konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun dalam lebih dari seperempat abad.

Duta Besar Armenia untuk PBB, Senin (28/9), mengomentari krisis saat ini di wilayah Nagorno-Karabakh dan mengatakan itu adalah serangan terang-terangan oleh Azerbaijan terhadap demokrasi dan hak asasi manusia.

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengutuk agresi Armenia terhadap Azerbaijan dan menyerukan solusi politik untuk konflik antara kedua negara.

OKI mengingatkan kembali resolusi dan keputusan yang dikeluarkan OKI dan Dewan Keamanan PBB. Agresi Armenia disebut melanggar gencatan senjata dan menyebabkan korban sipil.

Sekjen PBB Antonio Guterres berbicara kepada para pemimpin Azerbaijan dan Armenia, saat pertempuran terus berlanjut dalam gejolak paling mematikan dalam beberapa tahun antara dua negara bertetangga.

“Sekretaris Jenderal baru saja memberi tahu saya dia baru saja berbicara dengan presiden Azerbaijan dan dia akan segera berbicara dengan perdana menteri Armenia,” ujar juru bicara Guterres, Stephane Dujarric, kepada wartawan.

Guterres menekankan “perlunya dihentikan segera pertempuran dan dimulainya kembali tanpa prasyarat negosiasi yang berarti tanpa penundaan di bawah payung ketua bersama Minsk Group.

Ia juga menyerukan Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) untuk segera dikerahkan ke wilayah itu.

Dewan Keamanan PBB diperkirakan akan mengadakan pembicaraan darurat, Selasa (29/9), secara tertutup tentang etnis Armenia di Nagorny Karabakh, kata para diplomat kepada AFP.

Jerman dan Prancis meminta pertemuan itu, tetapi anggota dewan Eropa lainnya--Belgia, Inggris, dan Estonia--mendukung langkah itu, kata sumber itu. (Al Jazeera/OL-1)

BERITA TERKAIT