29 September 2020, 11:38 WIB

Tidak Perlu Panik tentang Kajian Potensi Gempa


mediaindonesia.com | Humaniora

BEBERAPA minggu terakhir ini banyak dibicarakan di media masa dan forum diskusi terkait potensi gempa besar yang dapat menyebabkan tsunami di selatan Jawa. Pernyataan tersebut berdasarkan pada kajian beberapa penelitian terdahulu, termasuk yang terakhir oleh tim interdisipliner dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Geolog UGM Dr Gayatri Indah Marliyani ST MSc mengimbau masyarakat diharapkan tidak perlu panik. Skenario yang disampaikan tidak serta merta memberikan informasi kejadian gempa dan tsunami di selatan Jawa akan terjadi besok atau lusa.

Ia berpandangan, berbagai pemberitaan terkait penelitian potensi gempa tersebut perlu digarisbawahi, yaitu hasil-hasil studi yang disampaikan masih berupa skenario kejadian gempa dan tsunami yang masih berupa potensi, bukan prediksi.

"Untuk menjadi prediksi, informasi yang disampaikan harus meliputi waktu, besaran magnitudo, dan lokasi kejadian. Potensi terjadinya tsunami memang ada di selatan Jawa, tapi kapan terjadinya kita belum tahu," ujarnya di Kampus UGM, Yogyakarta, Selasa (29/9), dalam siaran pers.

Menurutnya, hingga saat ini masih belum ada teknologi yang terbukti dapat melakukan prediksi dengan akurasi tinggi. Upaya penting yang bisa dilakukan masyarakat yaitu mempersiapkan diri untuk menghadapi segala bencana yang mungkin terjadi, termasuk gempa bumi dan tsunami.

Misal terjadi tsunami, setidaknya masyarakat harus mengetahui tempat yang harus dituju. Jika berada di tepi pantai, lantas merasakan gempa besar dan melihat air laut surut, warga harus segera menjauhi pantai dan menuju tempat yang tinggi, seperti bukit atau gedung-gedung yang tinggi.

"Jika berada jauh dari pantai (<20 km) atau berada pada daerah dengan ketinggian lebih dari 30 m dari permukaan laut, tidak perlu khawatir, tsunami tidak akan mencapai area tersebut," katanya.

Gayatri mengakui riset-riset terkait dengan prediksi gempa bumi mulai dikembangkan lebih serius dengan berbagai pendekatan, di antaranya dengan analisis seismisitas, gangguan pada gelombang eletromagnetik, adanya anomali emisi gas radon, serta perubahan muka air tanah.

Berbagai parameter mulai dimonitor di lokasi-lokasi yang dicurigai aktif secara tektonik oleh beberapa peneliti untuk mengetahui adanya keterkaitan antara pola anomali dan kejadian gempa bumi.

Beberapa keterbatasan dalam menerapkan metode-metode ini antara lain sensor harus berada dekat dengan sumber gempa bumi dan yang terpenting adalah melakukan validasi data secara global.

"Sampai saat ini penelitian mengenai prediksi gempa bumi dengan pendekatan-pendekatan ini masih belum menghasilkan prediksi yang secara konsisten memberikan korelasi yang positif. Untuk bisa dikatakan indikatif, hasil pantauan harus secara statistik menunjukkan bahwa ada korelasi yang signifikan antara kejadian dan anomali," katanya.

Menurut Gayatri, yang juga perlu diketahui di daerah subduksi aktif seperti di Sumatra dan Jawa, gempa dengan magnitudo kecil-sedang (<M4) terjadi hampir setiap hari.

Dengan begitu, jika ada yang membuat prediksi yang sangat umum, misalnya akan terjadi gempa dengan magnitudo M4 pada daerah sepanjang subduksi Jawa-Sumatra dalam waktu beberapa hari, belum bisa disebut prediksi tersebut berhasil karena memang pasti terjadi meski tanpa diprediksi.

"Meski begitu studi tentang prediksi gempa bumi ini layak untuk terus dilakukan, sebab jika berhasil akan memberikan kemaslahatan sangat besar bagi kehidupan manusia," terangnya. (AT/OL-14)

BERITA TERKAIT