29 September 2020, 12:35 WIB

Gubernur BI : Open Banking Beda dengan Neo Banking


Despian Nurhidayat | Ekonomi


GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengingatkan pentingnya digitalisasi open banking bagi pelaku industri perbankan ditegah pandemi covid-19.

Hal tersebut perlu dilakukan agar terus mepertahankan eksistensi kinerja dalam melayani nasabah.

Menurut Perry, dalam menerapkan open banking, perbankan harus menerapkan 4 aspek penting yang harus diperhatikan.

"Open banking itu ialah melakukan digitalisasi perbankan agar memberikan pelayanan kepada maysarakat secara terbuka. Beda dengan neo banking. Jadi open banking harus strategic driven, harus dari CEO nya dan harus top to down," kata Perry dalam webinar Infobank bertajuk 'Traditional Bank Vs Challanger Banks in The Era Of Open Banking', Selasa (29/9).

Perry menambahkan, aspek penerapan open banking dimulai dari infrastruktur teknologi yang harus ditransformasikan secara prima agar tetap sustain. Tak hanya itu, infrastruktur teknologi juga harus menyambung dan bersinergi satu sama lain, baik degan perbankan lain maupun ke industri non bank lainnya.

"Inilah bedanya, kalau masa lalu pengembangan IT sistem dilakukan oleh masing-masing perbankan. Nah sekarang masalahnya ini apakah sudah tersambung satu sama lain. Perlu dilakukan transformasi teknologinya, nggak hanya mesin ke mesin, tapi bicara satu sama lain," ujarnya.

Aspek kedua ialah perlunya membagun data warehousing yang terintegrasi satu sama lain agar memudahkan nasabah. Lalu aspek ketiga ialah pengembangan aplikasi yang berkelanjutan agar terus aman dalam melayani nasabah.

Aspek terakhir, tambah Perry, digitalisasi open banking harus memiliki perubahan mindset dari pelaku perbankan agar memahami secara rinci dalam penerapan digital.

"Keempat adalah perubahan mindset, change management sangat penting," pungkas Perry. (E-1)

BERITA TERKAIT