29 September 2020, 06:52 WIB

Bisnis Kuliner Indonesia Berpeluang di Afrika


Haufan Hasyim Salengke | Ekonomi

KULINER Indonesia banyak dicari di Afrika. Bisnis masakan Indonesia berpeluang besar memasuki pasar Afrika.

Faktor pendorongnya, antara lain, Indonesia dikenal luas dan sangat baik di Afrika, apalagi dikaitkan dengan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955. Kedua, Afrika terdiri dari ratusan etnis dan budaya dengan makanan yang beragam seperti Indonesia.

Ketiga, kerja sama perdagangan antarnegara dan perusahaan Indonesia yang berinvestasi di Afrika terus berkembang. Keempat, orang Indonesia kian banyak bepergian untuk bekerja dan hidup di Afrika.

Hal itu dikatakan oleh Duta Besar RI untuk Ethiopia, Djibouti, dan Uni Afrika Al Busyra Basnur dalam seminar nasional bertajuk Gastro Diplomacy Goes to Africa, Serial Indonesia-Afrika: Bersinergi Membangun Bersama di Masa pandemic Covid-19 yang diselanggarakan secara virtual, Senin, (28/9).

Seminar diadakan oleh Pusat Studi Afrika, FISIP Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan Indonesia Gastronomy Community (IGC) dan Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI).

Duta Besar Al Busyra Basnur lebih lanjut memaparkan tantangan utama yang dihadapi sekarang ialah sebagian besar orang Indonesia belum mengenal perkembangan terkini, potensi, dan peluang berbisnis makanan Indonesia di Afrika.

“Lihat, di benua dengan 55 negara dan penduduk 1,3 miliar jiwa, terdapat hanya empat restoran Indonesia yaitu di Mesir, Afrika Selatan, Rwanda, dan Sudan. Restoran dari berbagai negara lain seperti Tiongkok, Jepang, Korea, India, Vietnam, Timur Tengah, Italia dan Amerika Serikat, menjamur di Afrika,” kata Duta Besar Al Busyra.

Tantangan lain yang dihadapi yaitu transportasi bahan dan bumbu masakan Indonesia karena jarak Indonesia dan negara-negara Afrika cukup jauh dan frekuensi penerbangan masih terbatas.

“Namun, dengan Ethiopia, terdapat penerbangan langsung Addis Ababa-Jakarta, yang dilayani oleh maskapai Ethiopian Airlines,” jelasnya.

Selain Al Busyra, hadir sebagai pembicara pada acara tersebut Paramitaningrum dari Indonesia Gastronomy Community Universitas Binus dan Pinky Saptandari, Ketua Pusat Studi Afrika Unair, dengan moderator Dian Rosdiana selaku Sekjen Asosiasi Antropologi Indonesia.

Ketika membuka seminar, Falih Suaedi, Dekan FISIP Unair, antara lain mengatakan acara bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia tentang Afrika dan meningkatkan kerja sama Indonesia-Afrika, khususnya di bidang gastro diplomacy atau diplomasi melalui makanan. (OL-14)

BERITA TERKAIT