29 September 2020, 06:00 WIB

Kuat di Konsep, Lemah saat Implementasi


(RO/Ata/H-2) | Humaniora

RENCANA pemerintah mengubah strategi pembangunan kesehatan dari strategi kuratif menjadi promotif untuk mewujudkan peningkatan kualitas kesehatan dinilai sudah tepat, namun lemah saat implementasi.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan hal itu, kemarin. "Sebaik apa pun program dan strategi pembangunan, tanpa pelaksanaan dan pengawasan yang baik, akan sia-sia," ujar Rerie, demikian ia biasa disapa.

Pernyataan Rerie merespons pernyataan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, Minggu (27/9). Menurutnya, pemerintah mulai mengubah strategi pembangunan kesehatan dengan lebih mengutamakan langkah promotif dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Rerie berharap perubahan kebijakan di sektor kesehatan juga harus lebih berorientasi pada pemanfaatan sumber-sumber dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor obat-obatan dan alat kesehatan.

Pandemi Covid-19 yang kita hadapi saat ini, jelas Legislator Partai NasDem itu, mengingatkan semua pihak, termasuk pemerintah, bahwa kesehatan itu sangat mahal. "Pencegahan lebih penting daripada pengobatan," serunya.

Selain wabah menular covid-19, Indonesia juga memiliki pekerjaan besar dalam menangani stunting dan tuberkulosis (Tb).

Data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) per 26 September 2020 menunjukkan jumlah kematian dokter Indonesia yang menangani covid-19 sudah mencapai 123 orang. Minimnya jumlah dokter yang menangani covid-19 diatasi dengan penambahan ribuan relawan.

Menteri Muhadjir pun meminta dokter dan komunitas dokter saling menjaga dan mengingatkan saat bertugas. Sebab, mereka adalah aset bangsa yang berharga. (RO/Ata/H-2)

BERITA TERKAIT