29 September 2020, 04:39 WIB

Tingkat Keakuratan Hasil Swab Tes BIN Lebih Tinggi


S1-25 | Humaniora

HASIL swab test atau tes usap yang dimiliki Badan Intelijen Negara (BIN) telah memenuhi standar protokol laboratorium dan memiliki tingkat keakuratan yang tinggi.

Deputi Vll BIN, Wawan Hari Purwanto menjelaskan swab test yang dimiliki BIN menggunakan Laboratorium PCR berstandar Biosafety Level 2 (BSL-2) dan bersertifikat internasional pertama di Indonesia.

Wawan mengatakan yang dilakukan BIN dalam menyiapkan laboratorium swab test merupakan bagian dari peran BIN dalam penanganan covid-19 di Indonesia. Karena itu, Kepala BIN Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan memerintahkan kepada seluruh jajaran BIN bergerak membantu pemerintah dalam upaya memutus rantai penyebaran covid-19.

“Sesuai dengan UU 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara, BIN sebagai alat negara yang menyelenggarakan fungsi intelijen dalam negeri dan luar negeri, yaitu penyelidikan, pengamanan dan penggalangan, yang tujuannya adalah mendeteksi, mengidentifikasi, menilai, menganalisis, menafsirkan, dan menyajikan intelijen dalam rangka memberikan peringatan dini untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan bentuk dan sifat ancaman yang potensial dan nyata terhadap keselamatan dan eksistensi bangsa dan negara, serta peluang yang ada bagi kepentingan dan keamanan nasional,” kata Wawan dalam keterangan tertulis, kemarin.

Untuk itu, kata dia, BIN mengerahkan sumber daya manusia (SDM) berstandar tinggi yang dimiliki. Mereka adalah para dokter hingga tenaga kesehatan lulusan terbaik dari universitas ternama di Indonesia dengan kualifikasi biomolekuler. “Yang kita miliki semuanya kompeten di bidangnya, bahkan kita mempunyai beberapa ahli, di antaranya mulai dari biomolekuler, bioinformatika dan esai protein, genetika evolusi, diagnostic molekuler, patologi molekuler visologi hewan, hematologic, klinik kimia, biomedis, imunorserologi, rekayasa tumbuhan, mikrobiologi lingkungan, patologi klinik,” ucapnya.

Terkait laboratorium, Manager Laboratorium BSL-3 Lembaga Eijman Wanny Basuki menerangkan, BIN memiliki laboratorium mobil yang dilengkapi mesin PCR untuk pengetesan yang telah berstandar protokol laboratorium Bio Safety Level (BSL) 2. Mesin itu juga telah disertifikasi oleh lembaga sertifikasi internasional yakni World Bio Haztec (WBHT). Hal itu tidak banyak dimiliki oleh institusi maupun layanan kesehatan yang melakukan tes usap.

Ahli Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Budiman Bella mengakui hasil swab test BIN berbeda dengan yang dilakukan di tempat lain. Ia mengutarakan dalam melakukan uji sampel menggunakan PCR test, BIN menggunakan ambang batas yang tinggi. Sehingga sensitivitas untuk mengetahui hasil positif atau negatif covid-19 lebih akurat. “Nilai CT QPCR atau ambang batas bawah hasil tes PCR biasanya adalah 35, tapi BIN mempunyai ambang
batas 42 sehingga lebih sensitif, Hal itu untuk mencegah orang tanpa gejala lolos screening,” jelasnya.

Untuk uji coba, BIN telah melakukan tes di beberapa daerah seperti Jakarta, Tangerang, Bandung hingga Surabaya. Selama enam bulan terakhir, sebanyak 85 ribu lebih telah diambil spesiemennya oleh Medical Intelijen BIN. (S1-25)

BERITA TERKAIT