29 September 2020, 06:40 WIB

68 Cekungan Migas Segera Dieksplorasi


Ins/E-3 | Ekonomi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menuturkan pemerintah mendorong kegiatan eksplora­si migas nasional untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Selain itu, kegiatan ini juga dilakukan lantaran masih banyak cekungan migas yang belum digarap dengan maksimal.

“Kita punya 128 cekungan (migas). Masih ada 68 cekung­an lagi belum dieksplorasi untuk mengurangi ketergantungan impor kita ke depan,” jelas Arifin dalam keterangan resminya di Jakarta, kemarin.

Arifin menuturkan pada 1970-an pemerintah bisa menghasilkan 1 juta minyak barel per hari (bph). Namun, sejak 2000-an sampai sekarang hanya bisa memproduksi di atas 700 ribu bph. “Ini menjadi tantangan kita mengingat demand terus meningkat. BBM dan elpiji sebagai substitusi minyak tanah kita impor,” jelas Arifin.

Selain itu, Arifin menyebut pihaknya menargetkan proyek pengembangan kilang atau refinery development masterplan program (RDMP) di Dumai, Balikpapan, Balongan, dan Cilacap, serta kilang baru atau grass root refinery (GRR) di Bontang dan Tuban akan tuntas pada 2027. “Mudah-mudahan ini bisa merespons (kebutuhan),” kata Arifin.

Ia juga mengatakan program pemanfaatan energi baru terbarukan, hilirisasi batu bara, dan jaringan gas bisa menjadi salah satu strategi pemerintah dalam menekan angka impor bahan bakar minyak.

“Kita punya potensi gas cukup besar. Kalau tidak ada eksplorasi baru, masih ada (cadangan) waktu 20 tahun lagi. Makanya, kita harus masif memasang jaringan gas ke masyarakat,” jelasnya.

Secara terpisah, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) menandatangani perjanjian untuk mengakselerasikan investasi di wilayah kerja (WK) Rokan. Langkah ini diharapkan dapat menjaga produksi migas di blok tersebut.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, dalam perjanjian tersebut PT CPI dapat melakukan kegiatan pengeboran di WK Rokan sebelum berakhirnya masa kontrak pada Agustus 2021. “Ini merupakan cara untuk memastikan tingkat produksi dapat terus terjaga pada saat transisi dan masa-masa berikutnya. Dalam jangka pendek, ini adalah salah satu langkah nyata menjaga produksi migas 2021 tidak turun,” papar Dwi. (Ins/E-3)

BERITA TERKAIT