29 September 2020, 06:30 WIB

Bahlil Jemput Investasi ke Korsel


Ins/Ant/E-2 | Ekonomi

PEMERINTAH agresif menjemput investasi dari Korea Selatan yang terbukti dengan realisasi investasi asal ‘Negeri Ginseng’ itu melonjak hingga 340% pada triwulan II 2020.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi asal Korea Selatan pada triwulan II (April-Juni) 2020 mencapai US$552,6 juta atau melonjak sebesar 340% jika dibandingkan dengan di triwulan I (Januari-Maret) 2020 yang sebesar US$130,4 juta.

“Ini sinyal positif. Indonesia masih dilirik oleh investor di tengah pandemi covid-19. Jadi, kita harus serius memfasilitasi sampai jadi. Sesuai arahan Presiden, investasi yang kita dorong adalah yang mendukung transformasi ekonomi, ada nilai tambah, dan tentu juga investasi padat karya. Indonesia butuh lapangan kerja dan investasi solusinya,” kata Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dalam keterangan resminya, kemarin.

Jika dilihat berdasarkan periode semester I (Januari-Juni) 2020, realisasi investasi dari Korea Selatan meningkat 25%, yang totalnya sebesar US$683 juta, bila dibandingkan dengan periode yang sama di 2019 dengan nilai investasi US$548,4 juta.

Bahlil mengatakan BKPM juga akan berusaha menarik investor Korea Selatan untuk terus berinvestasi di Indonesia, khususnya di bidang industri hilirisasi.

Karena itu, Bahlil bersama Menteri BUMN Erick Thohir pada 23-24 September 2020 berkunjung ke Korea Selatan dalam rangka menindaklanjuti sejumlah rencana investasi perusahaan asal Korea Selatan di Indonesia.

“Untuk mendorong rea­lisasi investasi, kami bersama Menteri BUMN ke Korea Selatan untuk membahas hilirisasi EV (electric vehicle) battery,” terang Bahlil.

Senada dengannya, Erick Thohir mengatakan, meski di tengah pandemi covid-19, pemerintah Indonesia terus agresif untuk mendatangkan investasi. “Kita harus terus optimistis. Memang situasi sekarang penuh tantangan, tapi percayalah pemerintah terus berusaha, dan keberangkatan kami ke Korea Selatan ini karena memang ada minat serius dari beberapa perusahaan Korea. Artinya Indonesia memiliki daya tarik dan kita tindak lanjuti itu,” ujar Erick. (Ins/Ant/E-2)

BERITA TERKAIT