29 September 2020, 04:30 WIB

Kompromi Bangkitkan Sektor Wisata


AU/N-3 | Nusantara

KETERGANTUNGAN Daerah Istimewa Yogyakarta terhadap industri pariwisata dan penunjangnya sangat besar. Kontribusi sektor ini terhadap perekonomian provinsi itu mencapai 55,37%.

Karena itu, dampak pandemi telah benar-benar membuat puyeng sektor wisata. “Terjadinya penurunan drastis pada sektor pariwisata menimbulkan dampak yang signifikan terhadap perekonomian DIY. Di antaranya terhadap industri kuliner, transportasi, perdagangan, destinasi wisata, serta konsumsi rumah tangga,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia DI Yogyakarta, Hilman Tisnawan, ke­marin.

Karena itu, BI tidak membiarkan pe­merintah provinsi bekerja dan ber­pikir sendiri. Mereka mendukung si­nergi yang digulirkan lewat program Sinergi Pariwisata Ngayogyakarta (Siwignyo).

Kemarin, dalam rapat koordinasi pengembangan pariwisata, Hilman menyatakan beberapa program telah terimplementasi dengan baik dalam Siwignyo. Di antaranya penyusunan kajian strategi pariwisata menuju kebiasaan baru, webinar series pelatihan untuk pelaku pariwisata, implementasi QRIS destinasi pariwisata, dan pengembangan aplikasi pendukung pariwisata.

Stakeholders yang terlibat aktif di dalamnya antara lain Kantor BI, Dinas Pariwisata, Gabungan Industri Pariwisata Indonesia, dan pelaku pariwisata lainnya.

“Hasil kolaborasi pemangku kepentingan telah menghasilkan dua aplikasi, yaitu aplikasi Visiting Jogja dan aplikasi Pendataan Hotel,” tambah Hilman.

Visiting Jogya merupakan aplikasi untuk reservasi tiket destinasi wisata yang dilengkapi transaksi pembayaran menggunakan QRIS. Dengan aplikasi itu wisatawan dan pengelola daerah wisata dapat mengukur kapasitas 50% jumlah kunjungan. Adapun, aplikasi Pendataan Hotel dibuat untuk upaya pelacakan pengunjung hotel. (AU/N-3)

BERITA TERKAIT