28 September 2020, 13:35 WIB

Digitalisasi Pasar Rakyat Menjadi Keniscayaan


Mediaindonesia.com | Ekonomi

POLA pasar harus diubah agar tetap eksis dengan melaksanakan digitalisasi. Ke depan pasar dapat dijadikan tempat belanja yang nyaman, aman, serta sekaligus jaditujuan wisata, baik untuk pengunjung domestik maupun dari luar negeri, dengan setiap pasar punya ciri khasnya. Perubahan itu akan terus berlanjut seperti kebiasaan manusia yang kini telah berubah seiring perkembangan jaman di era adaptasi kebiasaan baru.

Demikian kesimpulan webinar bertema Digitalisasi Pasar Rakyat di Masa Pandemi Covid-19 yang digelar Gerakan Pakai Masker (GPM) pada Senin (28/9). “Pelaku usaha harus siap dengan keadaan ini. Semua bisnis harus menuju ke arah digital, baik pelaku pasar rakyat, perbankan maupun bisnis lain,” ujar Ketua Umum GPM Sigit Pramono.

Baca juga: Ekonomi Digital Indonesia Makin Menarik

Ia juga mengatakan penyebaran virus yang sangat massif pastinya sangat mengkhawatirkan. Karena itulah perlu upaya bersama agar dapat menangani isu kesehatan dan juga menyelamatkan nyawa ekonomi.

Menurutnya pasar merupakan urat nadi perekonomian Indonesia, tempat perputaran roda perekonomian pada suatu wilayah terjadi.  Oleh karena itu,  pihaknya  menjadikan pasar sebagai salah satu sasaran dalam edukasi dan sosialisasi penggunaan masker.

"Menurut ahli, pandemi covid-19 telah mendorong berkembangnya empat perilaku konsumen, yaitu munculnya solidaritas sosial, digitalisasi (go virtual), kecenderungan bekerja dari rumah dan masyarakat akan fokus untuk memenuhi kebutuhan dasar. Perubahan perilaku konsumen yang bekerja dari rumah dan berkembangnya sistem digital itu nantinya akan memunculkan sistem perekonomian baru, yaitu low touch economy. Saat itu kontak fisik akan berkurang. Dengan demikian akan timbul kebiasaan baru yaitu cashless society, yakni masyarakat mengurangi penggunaan uang tunai dalam bertransaksi," paparnya.

Ketua Umum Asparindo, Y Joko Setiyanto memaparkan bahwa jauh sebelum pandemi pihaknya sudah mencanangkan digitalisasi pasar rakyat. Saat itu para pelaku pasar menyadari pentingnya proses digitalisasi untuk kegiatan di pasar dan saat ini merupakan keharusan melaksanakannya.

“Pelaku pasar merupakan mitra strategis bagi BPR, terbukti lebih dari 50%  pemilik rekening BPR adalah pelaku pasar. Sehingga upaya menjaga pasar untuk tetap hidup dan berkembang sangat penting,” kata Joko.

“Setelah sistem pembayarannya siap, pelaku pasar harus membangun digital ekosistem, seperti yang sekarang ini sudah ada aplikasinya.  Ke depan, semua pelaku pasar harus dibangun ke arah itu. Selain mengurangi sentuhan fisik  dan jaga jarak, menggunakan aplikasi lebih aman dan efisien, lebih mudah dikontrol serta meminimalkan tindakan kriminal,” tambah Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Negara Indonesia, Sis Apik

Senada, Ekonom Senior Indef,  Aviliani mengatakan bahwa pandemi mempercepat transformasi di seluruh bidang, begitu pula dengan pasar. Pasar akan mengalami distorsi yang besar, kebiasaan digitalisasi tidak akan berubah setelah pandemi berlalu.  Hal itu dikarenakan masyarakat lebih cerdas, mendahulukan keamanan dan kenyamanan.

“Keberadaan pasar tetap ada, kegiatan transaksi dilaksanakan secara digital dan pasar itu sendiri diarahkan untuk tujuan wisata. Karenanya pasar harus berbenah menjadi tempat yang aman dan nyaman. Ini salah satuu paya agar pelaku pasar seperti kuli panggul tidak kehilangan pekerjaan,” ungkap Aviliani.

“Covid-19 menyebabkan bisnis anjlok lebih 40%. Untuk itu Adira Finance membantu pelaku pasar supaya bangkit. Saat ini ada 30 pasar binaan melalui Festival Pasar Rakyat Adira dan juga dikembangkannya bisnis portofolio Kedai UKM yang menjadi representative Adira,” kata Human Capital & Marketing Director  Adira Finance Swandajani Gunadi. (RO/A-1)

 

BERITA TERKAIT