28 September 2020, 20:55 WIB

Pertamina Perlu Cermat Tentukan Pengembang Kilang Tuban


Raja Suhud | Ekonomi

PERTAMINA  perlu secara cermat memilih pelaksana proyek pengembangan olefin di PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban.

Tender proyek ini sebelumnya diikuti oleh 4 konsorsium, yaitu Konsorsium Daelim Industrial-PT Wijaya Karya-McDermott Indonesia; Konsorsium JO Hyundai Engineering Co. Ltd-Saipem SpA-PT Rekayasa Industri-PT Enviromate Technology International; Konsorsium GS E&C-PT Adhi Karya-Technimont SpA; dan Konsorsium Technip-PT Tripatra-Samsung Engineering.

Saat ini dua peserta tender terbaik telah ada yakni Konsorsium JO Hyundai Engineering dan Konsorsium Technip.

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resource Indonesia (CERI) Yusri Usman menekankan pentingnya melihat kompetensi dan rekam jejak bidder.

“Di dokumen prakualifikasi (PQ) disebutkan harus yang berpengalaman dan punya rekam jejak. Kalau saya lihat Technip  punya lebih banyak rekam jejak,” kata Yusri pada Senin (28/9) merujuk pada dua peserta tender terbaik yang lolos proses tender belum lama ini.

Berdasarkan rekam jejak yang ada ,ada peserta tender memiliki rekam jejak yang kurang baik di proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan.

Penunjukkan EPC yang tidak memiliki track record yang baik di kilang RDMP Balikpapan, membuat Pertamina kehilangan kepercayaan dari para investor yang semula berniat untuk menanamkan modalnya di proyek ini.

Pengalaman dan rekam jejak EPC sangat menentukan keberhasilan pembangunan dan investasi Pertamina di proyek-proyek strategis nasional, yakni Grass Root Refinery (GRR), RDMP dan Olefin plant.

Yusri juga mengutip pernyataan dari Komisaris Utama PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (atau Ahok) yang sempat viral belum lama ini terkait pembangunan kilang. Ahok mengibaratkan pembangunan kilang sebagai mobil Formula 1 dan mempertanyakan bagaimana mungkin sopir gocart yang membangun kilang.

Sebagai perbandingan, bidder lain yang tidak lolos proses tender memiliki pengalaman dan rekam jejak yang lebih baik. Sumber dari Konsorsium GS E&P yang tidak ingin disebutkan identitasnya menyatakan bahwa GS E&P sudah berpengalaman membangun 14 pabrik olefin di 8 negara di dunia.

Dengan dasar ini, Yusri menegaskan agar proyek pembangunan komplek olefin di TPPI Tuban harus memperhatikan rekam jejak dan kompetensi para peserta tender. Karena jika tidak, Yusri menilai akan terjadi inefisiensi baik selama proses pembangunan hingga ke harga produknya.

“Kalau dikerjakan pihak yang kurang kompeten, harga produk petrokimia tidak bersaing dan volume produksi tidak optimal,” kata Yusri. 
Sebagai informasi, proyek Olefin TPPI Tuban ini akan memproduksi high density polyethylene (HDPE) sebanyak 700.000 ton per tahun, low density polyethylene (LDPE) sebanyak 300.000 ton per tahun, dan polypropylene (PP) sebanyak 600.000 ton per tahun.

Proses konstruksi proyek ini diestimasi membutuhkan waktu selama 3 tahun, mulai dari Desember 2021 hingga Maret 2024. (RO/E-1)

BERITA TERKAIT