28 September 2020, 20:02 WIB

Waspada Serangan Jantung Saat Bersepeda, Ini Cara Hindarinya


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

OLAHRAGA bersepeda menjadi salah satu aktivitas favorit di tengah pandemi Covid-19. Jalanan pun kini mulai ramai dengan pesepeda, baik yang bersepeda sendiri maupun bersama komunitas.

Namun, bersepeda secara berlebihan juga dapat membahayakan jantung. Tak jarang terdengar kabar pesepeda pingsan atau bahkan meninggal dunia karena serangan jantung.

Dokter dari RSAU Esnawan Antariksa Buyung Al-Hamzah mengatakan, pesepeda harus bisa mengingat batas kemampuan saat sedang bersepeda.

"Batas itu jangan sampai dilewati hanya karena nafsu ingin bersepeda cepat, karena akan menimbulkan bahaya bagi jantung," kata Buyung dalam diskusi vitual yang digelar Good Ride Bike Cafe di Bintaro, Tangerang Selatan.

Menurut Buyung, penting mengetahui kondisi diri agar tahu batas maksimal saat bersepeda. Sehingga olahraga bersepeda yang dijalani menimbulkan manfaat yang baik. Salah satunya ialah mengukur detak jantung (heart rate) agar jangan terlampaui batas maksimalnya.

Buyung menambahkan, bersepeda juga sebaiknya dilakukan secara berkelompok atau tidak sendiri agar bisa mengantisipasi segala kejadian. Jika harus bersepeda sendiri, kuncinya adalah mengetahui batas kemampuan tubuh, selain mematuhi rambu lalu lintas agar terhindar dari kecelakaan.

Baca juga : Stres Hadapi Pandemi, Jaga Pola Makan Tetap Sehat

Rekan Buyung di RSAU Esnawan Antariksa, Satrio Melvianto mengatakan, pesepeda juga perlu mengetahui teknik bantuan hidup dasar (BHD) agar dapat menangani kondisi serangan jantung ketika bersepeda. Salah satunya ialah teknik pompa jantung (CPR).

"Kalau melihat pesepeda tiba-tiba terjatuh (karena serangan jantung), yang pertama dilakukan ialah dengan mencegah berhentinya sirkulasi atau pernapasan, henti jantung, henti napas, lalu segera cari pertolongan medis. Yang perlu diingat, selama pandemi Covid-19, tidak ada bantuan napas melalui mulut, kecuali yang melakukan keluarga dekat, seperti ayah ke anaknya," kata Satrio.

Mekanik sepeda bersertifikat internasional, Olly Noor mengatakan, selain kondisi tubuh, penyetelan sepeda yang tepat dengan ergonomi pesepeda juga bisa membantu kenyamanan bersepeda dan mendapatkan manfaat kesehatan maksimal, sekaligus menghindari risiko cedera dan serangan jantung.

"Yang perlu dilakukan ialah dengan penyetelan saddle (tempat duduk), tinggi seatpost (batang penyangga tempat duduk), posisi stem (penyangga stang sepeda), posisi handlebar (stang sepeda), pedal sepeda, dan lainnya. Penyetelan ini harus dilakukan berulang-ulang hingga mendapatkan posisi yang nyaman (sweet spot)," katanya.

Di sisi lain, Ketua Bidang Umum Pengurus Provinsi Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) DKI Jakarta Fatur Racavvana mengatakan, pihaknya berencana menggelar pelatihan bertajuk Basic Sport Cycling (BSC) yang menyasar komunitas, tenaga medis, dan masyarakat umum mengenai sepeda.

"BSC adalah sebuah rangkaian dimana hasilnya menjadikan si peserta mampu melakukan langkah pertolongan, kemudian bersepeda dengan baik dalam cakupan umum maupun khusus. Materi akan diberikan oleh pelatih dari UCI (Federasi Sepeda Internasional), komisaris (commisaire) nasional, dan dokter spesialis olahraga," pungkasnya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT