28 September 2020, 15:56 WIB

Fire Free Alliance Dukung Pemerintah Antisipasi Karhutla


mediaindonesia.com | Humaniora

DI tengah anomali cuaca yang terjadi di tahun 2020, pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap menjadi prioritas pemerintah selain menangani pandemi Covid-19 yang belum berakhir di dalam negeri.

Saat ini, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau. Meskipun di beberapa daerah telah terjadi hujan hingga mengakibatkan banjir, potensi risiko kekeringan dan karhutla diprediksi belum berakhir hingga beberapa bulan mendatang,

Berkaca pada tahun lalu, rendahnya curah hujan dan panjangnya musim kemarau menjadi salah satu penyebab karhutla di Indonesia yang berdampak pada terbakarnya lahan seluas  857.759 hektare.

Sejak awal tahun, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah bergerak cepat melakukan serangkaian langkah strategis, diantatnya mengintensifkan koordinasi dengan pemerintah daerah, melakukan teknik modifikasi cuaca, hingga memperkuat pengawasan pencegahan karhutla tingkat tapak di sejumlah provinsi rawan kebakaran.

Namun, dukungan untuk pemerintah dari pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk memperkuat penanganan bencana yang kerap berulang setiap tahunnya ini. Dibutuhkan tanggung jawab dan kerja bersama antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat untuk berkolaborasi dalam menanggulangi karhutla dan dampaknya

Apalagi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan sebanyak 99% kebakaran hutan dan lahan terjadi akibat ulah manusia. Artinya, karhutla dapat kita hindari dengan bergerak secara kolektif dan memiliki kepedulian serta pengetahuan mengenai penanganan kebakaran lahan dan hutan.

Salah satunya dilakukan melalui Fire Free Alliance (FFA) atau Aliansi Bebas Api. FFA adalah aliansi yang terdiri dari gabungan berbagai pemangku kepentingan termasuk perusahaan kehutanan, pertanian serta organisasi masyarakat sipil secara sukarela yang bertujuan membantu mengatasi masalah kebakaran dan kabut asap di Indonesia dengan mendorong kerjasama berkelanjutan antara sektor swasta, masyarakat lokal, dan pemerintah.

Seiring berjalannya waktu, fokus FFA bergeser ke berbagai solusi yang memberdayakan masyarakat sehingga mereka memiliki tanggung jawab atas proses perubahan yang mengarah ke perubahan perilaku dalam jangka panjang. Anggota FFA saat ini  termasuk Grup Wilmar, Musim Mas, Asian Agri, IOI, Sime Darby, PM Haze, Y-IDH, dan APRIL.

Di tengah situasi ini, anggota FFA menyatakan kesiapannya dalam mengintensifkan strategi pencegahan kebakaran yang sejalan dengan program prioritas pemerintah. Khususnya, bekerjasama dengan desa-desa di sekitar wilayah operasional perusahaan untuk menanggulangi karhutla dengan berbagai pendekatan, dengan tidak melupakan standar protokol kesehatan.

Strategi anggota FFA Cegah Karhutla

Sebagai salah satu perusahaan anggota FFA yang bergerak dalam produksi minyak kelapa sawit, Grup Musim Mas terus memperkuat strategi pencegahan dan penanggulangan karhutla dengan mengintensifkan program Masyarakat Bebas Api (MBA) serta membentuk tim pemadam kebakaran yang melibatkan masyarakat.  

“Tim pemadam kebakaran tersebut, selalu kami berikan pelatihan dan edukasi mengenai cara mencegah dan memadamkan diberbagai situasi. Kami juga memperkuat program MBA serta mengajak masyarakat sekitar untuk aktif dalam mencegah kebakaran,” ujar Gunawan Siregar, General Manager Corporate Affair Musim Mas belum lama ini.

Berdasarkan Laporan Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Musim Mas (Musim Mas’ Fire Prevention and Management Report)sampai dengan Desember 2019, total insentif yang telah diberikan Musim Mas kepada desa-desa yang berhasil mencegah kebakaran mencapai 3 miliar rupiah.

Sedangkan, jumlah desa yang tergabung dalam progam MBA sebanyak 74 desa. Bersama dengan pemerintah daerah terkait, Musim Mas memberikan sosialisasi dan pelatihan mengenai pentingnya pencegahan kebakaran di desa-desa MBA.

Produsen minyak kelapa sawit lainnya, Asian Agri, berkomitmen melakukan pencegahan sedini mungkin agar lokasi desa-desa yang rawan kebakaran hutan dan lahan bersiaga di tengah merebaknya pandemi Covid-19. Salah satu yang dilakukan Asian Agri adalah mengedepankan teknologi digital dalam koordinasi dan pemantauan lapangan oleh tim patroli dan Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai bagian dari physical distancing.

“Pengiriman gambar kegiatan crew leader patroli yang dilengkapi posisi koordinat memudahkan kami melakukan pengecekan atau menindaklanjuti dengan tim yang terdekat dengan lokasi. Selain itu kelengkapan dasar protokol kesehatan untuk pemantauan menjadi perhatian setiap anggota MPA dan crew leader," ujar Hafiz Hazalin Sinaga, Manajer Program Desa Bebas Api Asian Agri.

Selain itu, terjadi peningkatan jumlah desa di sekitar operasional Asian Agri yang mengikuti program MPA menjadi 16 desa yang terdapat di Riau dan Jambi yang mencakup 343.276 hektare. Desa yang tergabung dalam MPA diharapkan dapat menjadi contoh mandiri masyarakat untuk bisa menjaga lingkungannya dari bahaya karhutla.

Di Grup APRIL, salah satu produsen pulp dan kertas terbesar,  secara aktif  melibatkan masyarakat setempat dalam Program Desa Bebas Api (Fire Free Village Program/FFVP). Melalui program ini, masyarakat dibekali perlengkapan dan informasi untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai cara penanggulangan kebakaran dan memberikan akses alternatif pembukaan lahan tanpa bakar dengan sistem pertanian berkelanjutan.

Hingga tahun ini, Program Desa Bebas Api Grup APRIL telah menjalin kemitraan dengan hampir 80 desa, yang mencakup lahan seluas 753.604 hektar atau hampir sepuluh kali luas wilayah Singapura. Program ini terbukti membantu mengurangi kebakaran hingga 90% di wilayah tempat masyarakat setempat sejak awal 2015. 

Untuk penanggulangan karhutla, APRIL/ RAPP menginvestasikan lebih dari 9 juta dollar AS, termasuk satu helikopter, dua perahu, 39 menara pengintai, 521 pompa air, dan pelatihan pemadam kebakaran untuk 724 relawan di 48 desa di Riau.

Selain itu sebanyak 1.080 anggota Regu Cepat Tanggap, 260 tim Tanggap Darurat Karhutla (FERT) dan 30 petugas pemadam kebakaran disiagakan selama 24 jam di seluruh wilayah konsesi perusahaan sepanjang musim kemarau. 

Fitrian Ardiansyah, Ketua Pengurus Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (Y-IDH) mengatakan FFA akan terus mendukung program pemerintah dalam pencegahan kebakaran berbasis komunitas sekaligus mengembangkan model usaha dan investasi masyarakat yang lebih lestari dan tanpa api.

Langkah tersebut sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia dalam merealisasikan Sustainable Development Goals (SDGs) serta pengurangan dampak dari perubahan iklim.

“Kami terus mengajak seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah, swasta, masyarakat dan para ahli untuk bekerjasama mencegah dan menanggulangi saat ini dan kedepannya sehingga pada gilirannya kita bisa bersama-sama menemukan solusi komperhensif secara ekonomi, sosial dan lingkungan yang bisa diterapkan oleh masyarakat,” ujar Fitrian. (OL-09)
 

BERITA TERKAIT