28 September 2020, 11:37 WIB

Usut Nurhadi, KPK Periksa Advokat


Cahya Mulyana | Politik dan Hukum

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan seorang advokat, Mohammad Bashori. Ia berstatus sebagai saksi untuk tersangka suap dan gratifikasi terkait dengan perkara di Mahkamah Agung (MA) pada 2011-2016, Nurhadi Abdurachman.

"Yang bersangkutan dipanggil sebagai saksi untuk pemeriksaan tindak pidana korupsi dengan tersangka NHD (Nurhadi)," kata Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi, Senin (28/9).

Dalam perkara ini, KPK terus mendalami peran Nurhadi dan menantunya yang juga telah ditetapkan sebagai tersangka, Rezky Herbiyono. Penyidik KPK meyakini peran aktif keduanya dalam menerima suap dan gratifikasi dalam bentuk sejumlah uang maupun barang.

Nurhadi dan Rezky disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) lebih subsider Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

KPK mengidentifikasi tiga dugaan penerimaan suap dan gratifikasi yang diterima Nurhadi yang berjumlah total Rp46 miliar. Salah satu dugaan sumber penerimaan ialah terkait dengan perkara perdata PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) (persero).

Dugaan sumber penerimaan suap kedua ialah pengurusan perkara perdata sengketa saham PT MIT. Ketiga, KPK juga menduga Nurhadi menerima gratifikasi terkait dengan penanganan perkara sengketa tanah untuk tingkat kasasi serta PK di MA dan permohonan perwalian.

Dalam kasus itu, KPK telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka, yakni Nurhadi beserta menantunya, Rezky Herbiyono, dan Direktur PT MIT Hiendra Soenjoto. Di saat yang sama, KPK juga terus menyelisik aset-aset Nurhadi terkait dengan tindak pidana pencucian uang (TPPU). KPK telah menyita aset berupa dua kebun kelapa sawit seluas 33 ribu meter persegi dan 530,8 hektare di Kabupaten Padang Lawas, Sumatra Utara.

Komisi antirasuah juga sudah menyita vila milik Nurhadi di daerah Gadog, Kecamatan Megamendung, Bogor. Begitu pun belasan kendaraan mewah yang terdiri dari motor besar alias moge, mobil, hingga sepeda. (OL-14)

BERITA TERKAIT