28 September 2020, 08:51 WIB

Sempat Buka, Tiga Sekolah di Pangandaran kembali Tutup


Adi Kristiadi | Nusantara

TIGA sekolah di Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, kembali ditutup. Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) setempat melakukan ini setelah sempat mengizinkan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka.

Penutupan tersebut telah dilakukan setelah ditemukan seorang warga terkonfirmasi positif covid-19. Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Pangandaran, Agus Nurdin, mengatakan, tiga sekolah yang kembali ditutup antara lain dua sekolah dasar (SD) dan satu sekolah menengah pertama (SMP).

"Kami memastikan agar warga yang positif itu bukan guru atau siswa, melainkan masyarakat biasa. Akan tetapi, orang yang terpapar covid-19 berasal dari Bandung dan memiliki rumah di Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran. Atas kejadian yang terjadi saya putuskan tutup sekolah di daerah itu sampai menunggu penelusuran," katanya, Senin (28/9) saat dihuhungi.

Menurutnya, tim surveilans sudah melakukan penelusuran dan melakukan swab massal kepada kontak erat pasien tapi hasilnya masih belum diketahui. Jika semua negatif, pihaknya akan kembali membuka sekolah tersebut.

Sekadar informasi, Pemerintah Kabupaten Pangandaran sebenarnya telah membuka seluruh sekolah tingkat SD dan SMP sejak Senin (21/9). Terdapat 280 SD dan 51 SMP yang diizinkan menggelar lagi KBM tatap muka secara terbatas.
 
"Proses berjalannya KBM tatap muka berjalan kondusif. Sebelumnya, kami melakukan tahap evaluasi. Ini akan dilakukan setiap dua pekan sekali. Artinya, baru pekan depan ini evaluasi secara menyeluruh akan dilakukan," ujarnya.

Dalam praktiknya, siswa dibagi dalam dua kelompok. Pertama, ada yang belajar di sekolah dan sisanya di rumah. Ini dilakukan secara bergantian.

"Potokol kesehatan selama siswa melakukan KBM tatap muka di sekolah dipastikan semua berjalan dengan baik. Seluruh siswa dan guru juga mendapat masker, termasuk pelindung muka (face shield), dari Disdikpora. Mudah-mudahan tidak ada kasus di sekolah, karena selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) banyak orangtua mengeluhkan tidak adanya kuota internet," paparnya. (AD/OL-14)

BERITA TERKAIT