28 September 2020, 08:41 WIB

Anak-Anak Desa Wailamun Jalan Kaki 3 Km Demi Dapatkan Sinyal


Gabriel Langga | Nusantara

KABUPATEN Sikka, Nusa Tenggara Timur kembali berada di zona merah akibat 23 prajurit TNI AD yang bertugas di Kodim 1603 Sikka terpapar virus Covid-19, sehingga kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka kembali dihentikan. Seluruh sekolah  kembali melakukan kegiayan belajar di rumah secara online. Saat belajar daring atau online ini, kendalanya tidak semua siswa di Desa Wailamun, Kecamatan Talibura bisa belajar secara daring karena berada di wilayah blank spot. Untuk mencari sinyal, siswa harus berjalan kaki menaiki bukit sejauh tiga kilometer untuk mendapatkan sinyal internet.

Kepala Desa Wailamun, Markus Muksim kepada mediaindonesia.com, Senin (28/9) mengatakan, sebelum tidak ada kasus virus Covid-19 di Sikka, aktivitas sekolah
di wilayahnya menggelar KBM secara tatap muka. Namun dalam perjalanannya, Sikka kembali zonah merah virus covid-19, maka KBM dihentikan. Selanjutnya
para pelajar di Desa Wailamun terpaksa harus berjalan kaki sejauh tiga kilo meter dari rumah menuju ke lokasi sinyal demi bisa belajar secara online.

Markus menambahkan di Desa Wailamun ini yang ada jaringan sinyal hanya di bukit Loronawaan yang merupakan batas Desa Wailamun dengan Desa Nebe. Pelajar yang ingin belajar di atas bukit Loronawaan itu harus menyusuri jalan setapak dengan berjaan kaki.

"Di bukit Loronawaan satu-satunya tempat yang bisa menangkap sinyal telepon seluler.Jadi kalau siang hari dan malam hari bukit itu pasti ramai. Banyak pelajar di atas bukit itu untuk belajar online. Bukit Loronawaan ini jauh dari pemukiman warga. Jaraknya sekitar tiga kilometer," papar Markus.

Ia mengungkapkan, kalau malam hari, kadang-kadang ada orang tua yang mendampingi anaknya untuk menuju ke lokasi bukit Loronawaan sehingga anak mereka bisa mengerjakan tugas yang diberikan bapak ibu guru.

"Siang masih baik, kan mereka bisa jalan gerombolan. Tetapi kalau malam hari, pasti ada orang tua antar mengingat lokasi itu gelap. Untuk penerangan bisa menggunakan lampu dari ponsel atau lampu senter. Jadi orang tua jaga memang anaknya. Anak mereka kerjakan tugas habis dan dikirim ke bapak ibu guru, baru mereka pulang bersama anaknya," ungkap Markus itu.

baca juga: Polres Brebes Bubarkan Lomba Voli Dihadiri Seribu Orang

Markus menambahkan, lokasi bukit Loronawaan itu juga dimanfaatkan oleh warga untuk berkomunikasi dengan saudara di luar daerah.

"Jadi ada beberapa warga bisa berkomunikasi dengan keluarga mereka yang jauh. Sampai saat ini di desa kita tidak ada jaringan komunikasi.  Hanya di bukit Loronawaan yang bisa tangkap sinyal selular," pungkas dia. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT