28 September 2020, 05:40 WIB

Ekpedisi Bakti Untuk Negeri Sambangi Mataram


(Ifa/S3-25) | Nusantara

KOLABORASI Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) bersama Media Group News (Metro TV) dalam perjalanan bertajuk Bakti untuk Negeri:

Ekspedisi Nusa Tenggara, memasuki kota pertama, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ekspedisi perjalanan darat itu untuk melihat perkembangan akses internet di wilayah tersebut. Terlebih, di masa pandemi covid-19 saat ini, telekomunikasi dan digitalisasi menjadi solusi paling vital dari penanggulangan dampak wabah tersebut. Salah satunya adalah bagi dunia pendidikan.

Di Mataram, sebagian besar pembelajaran masih dilakukan daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). Contohnya ialah MAN 2 Mataram. Kepala Sekolah MAN 2 Mataram, Lalu Syauki, bersyukur akses internet di sekolahnya lancar. Bahkan, agar tidak terkendala akses internet di rumah masing-masing, para guru MAN 2 Mataram dapat secara bergiliran menggunakan fasilitas internet sekolah untuk mengajar jarak jauh.

Kendala jaringan internet ini memang jadi tantangan untuk pembelajaran daring di dunia pendidikan saat ini. Hal itu dirasakan orang tua siswa.

“Yang paling jadi kendala sinyal internetnya, sering tersendat,” tutur Nur Hidayah, orang tua siswa MAN 2 Mataram, Nabila.

Lalu Syauki mengatakan hingga kini banyak orang tua yang menanyakan kapan pembelajaran tatap muka di sekolah bisa dimulai. Pihak sekolah pun menyurvei orang tua perihal pelaksanaan sekolah tatap muka itu.

Hasilnya, sebanyak 850 orang tua mengharapkan pembelajaran tatap muka, sedangkan 95 orang tua masih ragu-ragu membiarkan anaknya menjalani pembelajaran tatap muka.

Salah satu sekolah yang melakukan simulasi pembelajaran tatap muka ialah SMA Negeri 5 Mataram.

Kepala SMA Negeri 5 Mataram Arofiq Dardiri mengatakan simulasi sudah dipersiapkan sejak lama. Dia menjelaskan setiap sekolah yang direkomendasikan mengadakan pembelajaaran tatap muka harus mengisi instrumen tentang kesehatan sekolah. “Saat instrumen yang kami isi itu dinilai Kemendikbud,
dan sekolah kami dinyatakan siap, kami diberi waktu dan kesempatan simulasi,” katanya.

Ia mengatakan pembelajaran tatap muka juga mempertimbangkan keputusan para orang tua. Dalam hal ini, orang tua boleh untuk tidak mengizinkan anaknya belajar secara tatap muka di sekolah.

 

Terintegrasi

Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB Aidy Furqan, sudah waktunya internet diintegrasikan dalam pembelajaran siswa. “Kalau selama ini
yang lain-lain bisa kita integrasikan dalam kurikulum, kami juga berharap ada semacam dukungan agar pihak yang mengolah internet bisa masuk ke sekolah,” ujarnya.

Hal ini diharapkan berdampak langsung dalam kemudahan dan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan talenta kompetitif siswa di tingkat global. “Satu lagi, dengan integrasi pembelajaran internet di kurikulum akan memudahkan mobile learning, belajar di mana saja, belajar dengan mudah.

Mataram potensial untuk itu,” tegasnya.

Staf Divisi Layanan Teknologi Informasi Untuk Pemerintah Bakti, Hartasia Susan Panadea, menyebutkan akses internet yang dibangun Bakti memang paling banyak untuk sekolah atau dunia pendidikan. Dalam pemanfaatannya, Bakti juga bekerja sama dengan beberapa start up untuk menyediakan
e-learning. “Jadi bisa belajar e-learning dengan menggunakan akses internet itu di masa pandemi covid-19 ini,” katanya.

Selain itu, akses internet di dunia pendidikan juga digunakan sekolah untuk melaporkan data pendidikan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau pelaporan pemerintah daerah ke pemerintah pusat.

“Sebab, Bakti hadir untuk kepentingan publik yakni membangun infrastruktur telekomunikasi untuk daerah-daerah yang membutuhkan atau belum terdapat sinyal seluler dan internet,” pungkas Hartasia. (Ifa/S3-25)

BERITA TERKAIT