28 September 2020, 06:33 WIB

Katrol Harga Sayuran, Kelompok Wanita Tani Buka Pasar Tani


Tosiani | Nusantara

KELOMPOK Wanita Tani (KWT) Usaha Maju Dusun Jojogan, Desa Mondoretno, Temanggung berinisiatif membentuk pasar tani. Keberadaan pasar dimaksudkan untuk meningkatkan perekonomi masyarakat Desa Mondoretno selama pandemi lantaran hasil penjualan dari produk pertanian turun drastis.

Ketua KWT Usaha Maju, Ariyati, mengatakan, Pasar Pagi merupakan inisiatif KWT untuk mewadahi hasil pertanian sayuran dari warga daerah itu pada saat harga sayuran tengah anjlok. Selama pandemi korona, harga sayuran yang cenderung rendah amat menyusahkan warga yang sebagian besar adalah petani sayuran.

"Kita berpikir untuk menjualnya. Ini seperti jogo tonggo, tapi bukan sayuran digratiskan. Tapi dengan mendorong warga membeli produk sayuran tetangganya sendiri," kata Ariyati, Minggu (27/9).

Novita Pristiani, salah seorang anggota KWT menambahkan biasanya para pedagang sayuran keliling atau biasa disebut sebagai 'eyek' bisa leluasa masuk dan berjualan di Desa Mondoretno. Namun selama gelaran Pasar KWT, eyek tidak diperbolehkan memasuki desa. Sebab masyarakat diharuskan berbelanja produk sayuran dari tetangganya sendiri.

Dijelaskan Novita, ini merupaka gelaran pasar yang keenam. Gelaran pertama diselenggarakan pada 2 Agustus. Pasar KWT digelar tiga kali dalam sebulan. Yakni pada Minggu Kliwon, Minggu Legi, dan Minggu Pahing. Jumlah pedagang yang membuka lapak di pasar ini ada 28 orang.

"Khusus pengurus KWT hanya menjual sayuran. Lainnya makanan pakaian dan kerajinan," kata Novita.

Pada awal penyelenggaraan pasar tiap anggota KWT membayar iuran masing-masing sebesar Rp50 ribu sebagai modal awal. Selanjutnya tiap lapak memberikan kontribusi Rp 5 ribu setiap kali gelaran pasar. Sekarang omzet dari Pasar KWT bisa mencapai Rp4 juta setiap kali gelaran pasar.

"Kami tidak menyediakan plastik untuk membungkus sayuran, tapi menggantinya dengan tas dari kertas bekas yang dibuat sendiri oleh anggota KWT," lanjutnya.

Kepala Desa Mondoretno, Beni Sujono, mengatakan, selama harga sayuran jatuh, petani amat kesusahan. Namun tidak ada bantuan dan upaya apapun dari pemerintah dawerah setempat untuk membuat kondisi menjadi lebih baik. Bahkan banyak sayuran yang terbuang sia-sia lantaran harga terlalu rendah.

"Biasanya sayuran dari desa ini dijual ke Jakarta, Yogyakarta, dan Semarang dengan volume penjualan satu ton per hari dari berbagai jenis sayuran. Nilainya sekitar Rp 6 juta. Selama pandemik, sayuran tidak bisa dikirim ke luar daerah dan petani tidak punya modal tanam, sehingga harus berhutang," kata Beni Sujono.

Keberadaan pasar KWT ini, katanya, sedikit membantu menaikan harga jual sayuran. Umpamanya, sebelum pandemik harga cabai dari petani mencapai Rp15 ribu per kilogram (kg). Saat awal pandemi harga jual cabai di kisaran Rp1500-Rp2000 per kg. Setelah ada gelaran, kini harga cabai menjadi Rp5 ribu per kg.

baca juga: Kartini Juga Mendirikan Ekonomi Perempuan

Komoditas brokoli, tomat, dan terung jatuh sampai Rp1000 per kg di awal pandemi. Di pasar KWT bisa terjual Rp2500 per kg. Harga labu siam sekarang Rp500 per kg, saat awal pandemi hanya laku Rp300 per kg.

"Meskipun harga sayuran sudah mulai naik setelah ada gelarab pasar ini, namun masih belum bisa membuat ekonomi petani desa kami bangkit," pungkas Beni. (OL-3)

BERITA TERKAIT