28 September 2020, 02:55 WIB

Adinia Wirasti Berbagi untuk Menguatkan


Indrastuti | Humaniora

AKTRIS Adinia Wirasti, 33, membuat pengakuan mengenai pengalamannya seusai film yang ia bintangi, Ada Apa dengan Cinta (AADC), meledak pada 2002. 

“Buatku membagikan lara dan kegelisahanku terasa seperti memberikan uluran tangan untuk wanita lainnya, untuk membantunya bangkit atau sekadar menggandengnya untuk berjalan bersama,” tulis Adinia dalam unggahan video Instagram-nya beberapa waktu lalu. 

Video monolog tersebut serangkai dengan video presenter Najwa Shihab, produser Mira Lesmana, dan penyanyi Cinta Laura yang digandeng jenama fesyen Uniqlo dalam kampanye #WomenInProgress dengan misi agar perempuan mendukung dan menguatkan perempuan lain.

Menurut Adinia, ia sempat merasa insecure dengan kondisi fisiknya kala itu. “Aku masih liburan setelah SMP menjelang SMA ketika film AADC mengizinkan aku untuk punya pengalaman jadi anak SMA,” ujar Adinia dalam unggahan Instagram-nya.

Ia mengaku mendapatkan popularitas yang luar biasa dari perannya sebagai Carmen dalam AADC tersebut. “Tiba-tiba film itu meledak sedemikian rupa. Banyak hal-hal yang bikin agak traumatis karena aku gak punya amunisi yang baik, ya seperti amunisi yang tepat untuk menghadapi popularitas,” jelas Adinia.

Trauma dan ketakutan yang dialami menjadikan Adinia mengalami banyak keragu-raguan setiap memutuskan akan melakukan sesuatu. “Keraguan itu terasa mengganggu. Dibandingkan dengan perempuan lain yang mungkin lebih kecil, lebih putih, lebih langsing, lebih lebih,” tukasnya.

Adinia menambahkan, sosoknya dianggap menjadi ‘terlalu’ Indonesia, terlalu tinggi, terlalu berkulit gelap, dan seterusnya. “Tuntutan itu menjadikan rasa yang tidak aman bagiku sebagai seorang perempuan. Sebagai seorang anak perempuan. Saat itu aku mulai diet. Bayangkan, anak usia 13 tahun, dan itu sulit buat badan aku,” tutur peraih Piala Citra 2013 untuk kategori aktris terbaik melalui film Laura
dan Marsha.


Empowerment

Adinia menuturkan, banyak trauma yang dialami perempuan yang terjadi di dalam masyarakat yang sayangnya bersumber dari sesama perempuan.

“Se-simple melihat perempuan single yang belum menikah di usia 30-an. Kapan kawin? Kapan punya anak? Lo kapan itu? Kapan ini? Segala macam,” keluhnya.

Ia tidak menampik akan selalu ada ekspektasi dari orang lain dan ekspektasi dari keluarga sendiri terhadap perempuan. “Kalau menurut aku, paling susah ya ekspektasi dari diri sendiri,” tandasnya.

Namun, Adinia mengakui mendapatkan pelajaran dari pengalaman yang ia alami. “Ketakutan itu tidak melulu bisa menjadi jahat ke kita. Pikirkan seperti ini, ketika kita punya ketakutan, kita di depan singa. Justru ketakutan akan menyelamatkan kita dari gigitan. Kebayang gak sih kalau kita gak punya takut, main peluk aja (ke singa)? Ya kita gak tahu apa yang terjadi,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketika bisa mengolah ketakutan, justru akan menjadi empowerment bagi perempuan itu sendiri. “Satu hal yang membantu aku untuk terus jalan, karena buat aku gak ada jalan pintas, gak ada jalan muter untuk mengakali apa yang perlu kita lewati. Yang perlu kita lakukan ialah melewatinya,” tutur Adinia. (H-3)
 

BERITA TERKAIT