27 September 2020, 22:52 WIB

Korsel Bantu Cirebon Ciptakan Karya Seni Inovatif


Ghanii Nurcahyadi | Humaniora

PROYEK pendidikan seni dan budaya yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan serta Korea Arts and Cultures Education Services (KACES) bertajuk Official Development Assistance (ODA) ikut membantu menciptakan karya seni inovatif di Kota Cirebon, Jawa Barat.

Kolaborasi yang melibatkan pemerintah, seniman dan sekolah itu bertujuan untuk membangun dan merevitalisasi sistem pendidikan seni dan budaya secara berkelanjutan di Indonesia yang sesuai dengan kondisi dan kebudayaan lokal di saat ini. 

Kepala Tim Hubungan Internasional KACES Serin Kim Hong mengatakan, pihaknya percaya seni dan budaya sangatlah penting untuk keseluruhan kualitas hidup masyarakat. Seni dan budaya juga bisa menjadi aset berharga dari sebuah bangsa. 

"Karena itu pendidikan seni dan budaya harus selalu inovatif supaya relevan dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas di hari ini. Pilihan Cirebon yang bagian dari Indonesia sebagai tuan rumah proyek ini karena kekayaan budaya kotanya," kata dia saat penutupan Made In Cirebon secara virtual.

"Akan sangat menarik melihat kemungkinan konten pendidikan seni dan budaya yang bisa dikembangkan dari kota yang sangat multikultural dan memilki akar tradisi yang kuat,” tambahnya.

Dalam proyek ini KACES bekerja sama dengan ARCOLABS (Center for Art and Community Management), yang berfungsi sebagai mitra yang mengorganisir dan mengeksekusi proyek ini. Sehubungan dengan pandemi Covid-19, rencana awal untuk melakukan program pertukaran ini secara fisik harus dipindahkan menjadi program online. 

Direktur ARCOLABS Jeong Ok Jeon melihat ini sebagai tantangan untuk metode kolaborasi baru. Baginya hal ini menjadi pertama kalinya bekerja dengan orang-orang dan mitra baru yang ditemui melalui layar virtual. 

"Tetapi kami pun belajar bahwa dalam keterbatasan. Ternyata program ini bisa tetap berjalan lancar dan efektif,” ujar Jeon.

Sejak Juli hingga September, ODA 2020 telah menggelar sejumlah lokakarya bagi seniman pengajar, seniman lokal, guru, dan siswa. Selain itu juga telah digelar pameran kecil yang melibatkan siswa yang sekaligus menutup Made In Cirebon pada Jumat (25/9).

Baca juga : Teknologi Tingkatkan Kualitas Hidup Anak Penyandang Disabilitas

Seniman Fransisca Retno yang juga sebagai edukator mengatakan program pertukaran tersebut memberikan perspektif baru mengenai praktik artistik di luar Jakarta. 

“Saya pribadi kagum dan terinspirasi dari dedikasi para seniman di Sinau, yang menggunakan keahlian mereka untuk mengkomunikasikan permasalahan sosial dan lingkungan di Cirebon. Menurut saya ini betul-betul memperlihatkan bagaimana pendekatan seni dan artistik bisa berdampak lebih luas dari seni itu sendiri dan berfungsi lebih besar bagi komunitas,” ungkapnya kagum.

Hal senada disampaikan oleh Koordinator Sinau Art Nico Broer. Menurutnya, Berkegiatan online sebetulnya adalah pengalaman baru baginya bersama teman-teman. 

"Tetapi di sini kami belajar bagaimana mengeksplorasi pendekatan seni lebih jauh lagi ke dalam beragam metode yang menyenangkan dan dapat dilakukan oleh siswa sekolah. Mudah-mudahan ini juga membuat seni lebih bisa diakses oleh masyarakat,” jelasnya.

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Kota Cirebon Lilik Agus Darmawan berharap sesi pelatihan di sekolah dapat menginspirasi guru untuk mengembangkan metode pengajaran dan pembelajaran yang inovatif. 

“Tujuan pendidikan adalah menumbuhkan pola pikir kreatif, artinya kita tidak bisa terus-menerus menggunakan metode belajar yang sama. Lokakarya semacam ini adalah awal dari pengembangan selanjutnya untuk membuat modul pengajaran yang terintegrasi, menggabungkan seni, budaya, sejarah, sains berikut dengan isu-isu keseharian yang kita hadapi,” terang dia.

Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis menegaskan dukungannya pada proyek government-to government itu. Ia menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menciptakan masa depan yang lebih baik. 

“Sepanjang sejarah Cirebon selalu menjadi tempat meleburnya beragam kebudayaan dan tradisi. Kita sudah terbiasa dengan kolaborasi, kita semua adalah bagian dari masyarakat sehingga kita harus bekerja sama sesuai kapasitas kita demi menciptakan masa depan yang lebih baik untuk semua," katanya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT