28 September 2020, 00:55 WIB

H-3 Gempa Bumi Bisa Terdeteksi


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

SISTEM peringatan dini gempa bumi kini mampu mendeteksi dan memberikan peringatan gempa dalam 1-3 hari sebelum peristiwa terjadi dengan mencakup daerah dari Sabang sampai Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kecanggihan alat pendeteksi gempa dengan sistem baru itu tengah dikembangkan tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. “Dari EWS (early warning system) gempa algoritme yang kami kembangkan bisa tahu 1-3 hari sebelum gempa. Jika gempa besar di atas 6 magnitudo, sekitar 2 minggu sebelumnya alat ini sudah mulai memberikan peringatan,” jelas Ketua Tim Riset Laboratorium Sistem
Sensor dan Telekontrol Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM Sunarno, kemarin.

Sunarno menjelaskan, sistem peringatan dini gempa yang dikembangkan ini bekerja berdasarkan perbedaan konsentrasi gas radon dan level air tanah yang merupakan anomali alam sebelum gempa bumi terjadi.

Apabila akan terjadi gempa di lempengan, muncul fenomena paparan gas radon alam dari tanah meningkat secara signifikan. Demikian juga permukaan air tanah naik-turun secara signifikan.

“Dua informasi ini dideteksi alat EWS dan akan segera mengirim informasi ke ponsel saya dan tim. Selama ini, informasi sudah bisa didapat 2-3 hari sebelum terjadi gempa di antara Aceh dan NTT,” ujarnya.

Sistem yang dikembangan terdiri atas alat EWS yang tersusun dari sejumlah komponen, seperti detektor perubahan level air tanah dan gas radon, pengondisi sinyal, kontroler, penyimpan data, sumber daya listrik. Lalu, memanfaatkan teknologi internet of thing (IoT) di dalamnya.

Sunarno menyampaikan, pada 2018, dia dan tim telah melakukan penelitian untuk mengamati konsentrasi gas radon dan level air tanah sebelum terjadinya gempa bumi. Pengamatan kemudian dikembangkan sehingga dirumuskan dalam suatu algoritme prediksi sistem peringatan dini gempa bumi.

Sistem ini terbukti telah mampu memprediksi terjadinya gempa bumi di barat Bengkulu M5,2 (28/8/2020), barat daya Sumur-Banten M5,3 (26/8/2020), barat daya Bengkulu M5,1 (29/8/2020), barat daya Sinabang Aceh M5,0 (1/9/2020), barat daya Pacitan M5,1 (10/9/2020), tenggara Naganraya-Aceh M5,4 (14/9/2020).

Sunarno menyebutkan, sistem deteksi tersebut dikembangkan sebagai mekanisme membentuk kesiapsiagaan masyarakat, aparat, dan akademisi untuk mengurangi risiko bencana.


Jangan panik

Dalam seminggu terakhir ini, muncul kecemasan dan kepanikan publik terkait dengan beredarnya informasi mengenai potensi gempa megathrust dan tsunami hingga setinggi 20 meter. Pendapat itu dikemukakan ilmuwan dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengimbau warga untuk tidak panik.

“Ini masalah sains komunikasi yang masih terus saja terjadi karena hingga saat ini masih ada gap atau jurang pemisah antara kalangan para ahli dengan konsep ilmiahnya dan masyarakat yang memiliki latar belakang dan tingkat pengetahuan yang sangat beragam,” pungkas Daryono. (Wan/AT/H-1)
 

BERITA TERKAIT