28 September 2020, 00:35 WIB

Madrid Berisiko Serius tanpa Aturan yang Lebih Ketat


MI | Internasional

PEMERINTAH Spanyol mendesak pihak berwenang di Madrid untuk memperketat aturanaturan pembatasan virus korona (covid-19) di seluruh kota dan memperingatkan ‘risiko serius’ bagi penduduk jika tidak melakukannya.

Madrid memperpanjang pem batasan di hotspot covid19, Jumat (25/9), tetapi menolak seruan untuk mengunci seluruh kota. Pada Sabtu (26/9), Menteri Kesehatan Spanyol Salvador Illa mengatakan pembatasan saat ini tidak cukup. Dia mengatakan inilah waktu untuk bertindak dengan tekad untuk mengendalikan pandemi.

“Ada risiko serius bagi penduduk, bagi daerah tetangga,” kata Illa. Ia pun menyeru kepada pemerintah daerah ibu kota untuk mengutamakan kesehatan warga dan memberlakukan penguncian parsial di seluruh kota.

Madrid kembali menjadi episentrum wabah virus korona Spanyol, seperti yang terjadi pada puncak pertama awal tahun ini. Negara itu mencatat 12.272 kasus lebih lanjut pada Jumat sehingga total resmi menjadi 716.481, penghitungan infeksi tertinggi di Eropa barat.

Spanyol dan banyak negara lain di belahan bumi utara telah menyaksikan gelombang kedua pandemi virus korona dalam beberapa pekan terakhir. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan peringatan keras tentang kebangkitan infeksi covid-19 di Eropa dan di tempat lain saat musim dingin mendekat.

Sementara itu, di Amerika Latin, tercatat sudah lebih dari 9 juta kasus dan 330 ribu kematian di wilayah tersebut, hingga Jumat. Menurut Anadolu Agency, kasus pertama dilaporkan 26 Februari di Brasil dan butuh waktu hingga Mei untuk mencapai 500 ribu kasus. 

Empat bulan kemudian, kasus di Amerika Latin dan Karibia melewati angka 9 juta, menurut Universitas Johns Hopkins. India mencatat 88.600 kasus baru virus korona yang dikonfirmasi dalam 24 jam terakhir.

Kemarin, Kementerian Kesehatan juga melaporkan tambahan 1.124 kematian sehingga totalnya menjadi 94.503. Kasus baru kemarin tersebut telah meningkatkan jumlah kasus korona di negara itu menjadi lebih dari 5,9 juta.

Rata-rata kasus baru telah turun sekitar 7.000 setiap hari da lam seminggu terakhir setelah mencapai rekor 97.894 pa da 16 September. Di sisi lain, India juga memiliki jumlah pasien yang pulih tertinggi di dunia, menurut Johns Hopkins University. Ting kat pemulihannya mencapai sekitar 82%. (Hym/Nur/BBC/CNA/AA/I-1)

BERITA TERKAIT