27 September 2020, 19:24 WIB

Sengketa Wilayah, Armenia dan Azerbaijan Kembali Baku Tembak


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

ARMENIA mendeklarasikan darurat militer dan memerintahkan militernya untuk melakukan mobilisasi setelah gejolak besar dalam kekerasan dengan Azerbaijan atas wilayah Nagorno-Karabakh yang disengketakan.

Pertempuran sengit antara dua musuh bebuyutan itu pecah, Minggu (27/9), dan saling menyalahkan atas eskalasi yang menyebabkan laporan korban jiwa.

Armenia menuduh Azerbaijan menyerang permukiman sipil di Nagorno-Karabakh yang secara internasional diakui sebagai bagian dari Azerbaijan tetapi diduduki dan dikendalikan oleh pasukan Armenia, termasuk kota utama Stepanakert.

Kementerian pertahanan Armenia mengatakan pasukannya menjatuhkan dua helikopter Azerbaijan dan tiga pesawat nirawak sebagai tanggapan atas serangan yang dikatakan dimulai pukul 04:10 waktu setempat.

Namun Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan pihak mereka meluncurkan serangan balasan untuk menekan aktivitas tempur Armenia dan memastikan keselamatan penduduk, menggunakan tank, rudal artileri, penerbangan tempur, dan drone. Kementerian mengatakan sebuah helikopter Azerbaijan telah jatuh tetapi awaknya selamat.

"Ada laporan tentang korban tewas dan luka-luka di antara warga sipil dan tentara," kata Hikmet Hajiyev, juru bicara kepresidenan Azerbaijan, dalam sebuah pernyataan.

Dalam sebuah pernyataan di Facebook, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan mengatakan, pihaknya telah memutuskan untuk mendeklarasikan darurat militer dan mobilisasi total, memberitahu warga untuk bersiap-siap untuk mempertahankan tanah air.

Sementara itu, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi kepada negara itu "ada kematian di antara pasukan Azerbaijan dan penduduk sipil akibat pengeboman Armenia."

Baca juga : Bocorkan Rahasia Negara Tibet Pecat Pejabat Senior

Aliyev memperingatkan, pihak yang menggunakan taktik intimidasi terhadap negaranya akan menyesalinya. Ia menegaskan, Azerbaijan akan mempertahankan setiap jengkal tanahnya dan Nagorno-Karabakh adalah miliknya.

Di Nagorno-Karabakh, di mana para pejabat juga mengumumkan darurat militer dan memerintahkan warga untuk memobilisasi, ombudsman Artak Beglaryan mengatakan "ada korban sipil di antara penduduk di wilayah tersebut.

Robin Forestier-Walker dari Al Jazeera, yang telah meliput konflik berkepanjangan secara ekstensif, menggambarkan gejolak terbaru tersebut sebagai "eskalasi yang sangat serius."

Pertempuran terburuk selama bertahun-tahun telah meningkatkan momok perang skala besar baru antara Azerbaijan dan Armenia, yang telah berhadapan selama beberapa dekade dalam sengketa wilayah atas Nagorno-Karabakh.

Etnis Armenia di wilayah tersebut mendeklarasikan kemerdekaan ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, memulai perang yang menewaskan sekitar 30.000 orang dan membuat Nagorno-Karabakh di luar kendali Baku

Meskipun gencatan senjata disepakati pada 1994, Azerbaijan dan Armenia sering saling tuduh melakukan serangan di sekitar Nagorno-Karabakh dan di sepanjang perbatasan Azerbaijan-Armenia yang terpisah.

Pada Juli, bentrokan hebat di sepanjang perbatasan kedua negara--ratusan kilometer dari Nagorno-Karabakh--menewaskan sedikitnya 17 tentara dari kedua belah pihak. (Al Jazeera/OL-7)

BERITA TERKAIT