27 September 2020, 19:20 WIB

FSGI Ragukan Kredibilitas Aplikasi di Kuota Belajar Kemendikbud


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menemukan sejumlah aplikasi yang patut dipertanyakan kredibilitasnya, namun terfasilitasi dalam kuota belajar yang disubsidi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) FSGI Fahriza Martha Tanjung mengatakan, dari 19 aplikasi pembelajaran yang difasilitasi kuota belajar, terdapat setidaknya lima aplikasi yang diragukan kapasitasnya.

“Kami sangat menyayangkan ternyata banyak aplikasi-aplikasi yang terfasilitasi di kuota belajar itu patut diragukan kapasitas dan kredibilitasnya,” kata Fahriza dalam konferensi pers, Minggu (27/9).

Baca juga: Kemendikbud: Hingga 2021 Tidak Ada Perubahan Kurikulum Nasional

Kelima aplikasi tersebut yakni Aminin, aplikasi muslim yang hingga (26/9) baru diunduh sebanyak 1.000 kali; AyoBlajar, aplikasi belajar yang baru diunduh sebanyak 5ribu kali; aplikasi Birru yang baru diunduh sebanyak 100 kali; Eduka, aplikasi ujian yang baru diunduh sebanyak 1.000 kali dan terakhir diperbarui 19 Oktober 2019 lalu; dan Ganeca Digital, aplikasi perpustakaan digital/toko buku digital yang baru diunduh sebanyak 1.000 kali. Fahriza pun mempertanyakan, mengapa aplikasi yang tergolong baru dan jarang digunakan oleh para siswa ini justru difasilitasi dalam kuota belajar.

“Jadi kami menduga ada upaya dari Kemendikbud untuk mengarahkan penggunaan aplikasi tertentu yang akan memberikan keuntungan finansial bagi perusahaan pengembang aplikasi,” imbuhnya.

Fahriza pun menduga, penggunaan kuota belajar dalam pelaksanaan PJJ daring tidak akan maksimal karena aplikasi yang sering digunakan oleh siswa dan guru justru tidak masuk dalam daftar tersebut. Apalagi kini banyak pemerintah daerah dan sekolah yang membangun aplikasinya sendiri untuk pelaksanaan PJJ daring.

“Kalau ini tidak difasilitasi oleh kuota belajar kan sangat disayangkan sekali, karena mereka rata-rata menggunakan apikasi ini di sekolah maupun kabupaten/kotanya masing-masing. Misalnya (aplikasi) SMPN 1 TanggungHarjo, ada juga aplikasi e-learning Disdik Klungkung Bali yang sudah 10 ribu kali di-download, dan e-belajar SMPN 3 Serang,” tandasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT