27 September 2020, 14:30 WIB

FSGI Dukung Penyederhanaan Kurikulum


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

BEREDAR kabar bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana untuk menyederhanakan kurikulum 2013 demi menciptakan kemerdekaan belajar bagi siswa. Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengatakan, pihaknya mendukung rencana tersebut, karena memang sudah saatnya kurikulum disederhanakan, terutama di masa pandemi covid-19.

“Tidak dalam kondisi pandemi saja Kurikulum 2013 sulit dituntaskan, apalagi di saat bencana seperti saat ini,” ujar Retno dalam konferensi pers, Minggu (27/9).

Retno menuturkan, penyederhanaan yang dimaksudkan adalah untuk mengurangi muatan kurikulum 2013 yang selama ini sarat beban dan sulit dituntaskan. Dia mencontohkan seperti dalam mata pelajaran sejarah, penyederhanaan dilakukan untuk penguatan sejarah lokal dalam konteks sejarah nasional Indonesia.

Baca juga: Pemerhati Pendidikan: Pelajaran Sejarah dan Budaya Sumber Moral

“Penyederhaan kurikulum berfokus pada pengurangan muatan, terutama materi yang tumpang tindih antar mata pelajaran terkait, bukan menghilangkan mata pelajaran tertentu,” tuturnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, selama ini dalam pembelajaran sejarah Indonesia, peserta didik tercerabut dari lingkungan sosial budayanya. Siswa belajar tentang berbagai peristiwa sejarah yang dinyatakan sebagai peristiwa sejarah Indonesia, sebagaimana yang tercantum dalam Kompetensi Dasar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Sejarah Indonesia. Siswa lebih banyak belajar peristiwa sejarah di luar lokal di mana mereka bertempat tinggal.

“Siswa yang belajar sejarah maritim tidak mengenal lokalnya sebagai wilayah maritim, kecuali mereka yang tinggal di wilayah kerajaan maritim besar Indonesia dan tercantum dalam buku teks pelajaran sejarah, sehingga peserta kurang atau bahkan tidak mengenal masyarakatnya dan perkembangan masyarakatnya pada masa lalu, nilai-nilai yang diwariskan, dan kontribusi masyarakatnya dalam perjalanan sejarah bangsa. Seolah-olah masyarakat sekitarnya tidak terlibat dalam peristiwa sejarah Indonesia. Karena peristiwa yang dipelajari peserta didik adalah peristiwa yang jauh dari mereka, baik dalam unsur ruang maupun dalam unsur waktu,” terangnya.

Selain itu, pembelajaran Sejarah selalu dianggap hanya sebagai peristiwa yang sudah berakhir di masa lalu, yang baik untuk dikenang dan dipajang di museum atau disimpan di dalam arsip. Padahal, kehidupan masa kini adalah kelanjutan dari kehidupan masa lalu.

“Padahal kemajemukan masyarakat Indonesia dalam budaya, sosial, agama, adat, ekonomi adalah warisan yang masih berlanjut dari kehidupan masa lalu bangsa,” ujarnya.

Oleh sebab itu, FSGI meminta pendekatan pembelajaran sejarah yang saat ini lebih berorientasi pada peristiwa nasional dan yang tertulis pada buku pelajaran, diubah ke pendekatan semasa (sinkronik), sehingga peristiwa sejarah di wilayah lokal yang semasa dengan peristiwa sejarah Indonesia dipelajari sebagai suatu keterkaitan mata rantai peristiwa sejarah.

“Pembelajaran sejarah Indonesia harus menyadarkan siswa bahwa sejarah masih hidup pada masa kini dan menjadi living history yang mungkin tidak disadari,” tandasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT