27 September 2020, 12:10 WIB

Menko Perekononomian Dukung Peningkatan Nilai Tambah Pertanian


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Salah satu pendukung surplus Neraca Perdagangan Indonesia adalah Ekspor Non Migas, khususnya Komoditi Pertanian yang masih kuat menghadapi pandemi covid-19. Sepanjang Januari sampai Agustus 2020, komoditi ini dikatakan meningkat sebesar 8,59%.

Ketahanan komoditi pertanian tersebut ditunjukkan salah satunya dengan kegiatan pelepasan ekspor produk pertanian olahan kelapa di Bintan, Kepulauan Riau, pada Sabtu (26/9) kemarin.

“Kita menyaksikan penyerahan sertifikat sekaligus ekspor perdana Tepung Kelapa ke India dan juga ekspor Santan Kelapa ke Jerman untuk kesekian kalinya,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dilansir dari keterangan resmi, Minggu (27/9).

Kegiatan yang digawangi oleh Kementerian Pertanian ini diharapkan dapat mendorong para pelaku bisnis di provinsi Kepulauan Riau untuk bisa meningkatkan ekspor, melakukan perluasan pasar ke luar negeri, dan membantu pemulihan ekonomi nasional.

“Ini adalah produk yang 100% dari Indonesia dan membuat nilai tambah kelapa menjadi tinggi. Ini adalah ekspor yang luar biasa dan diharapkan bisa direplikasi di berbagai daerah karena kita adalah Negeri Rayuan Kelapa sehingga wajar Indonesia mengekspor kelapa,” ujarnya.

Apalagi, lanjut Airlangga, di tengah situasi pandemi covid-19 ini, minyak kelapa murni memiliki manfaat kesehatan. “Seperti yang sering disampaikan Menteri Pertanian bahwa minyak kelapa bisa membantu meningkatkan imunitas, yaitu dari VCO (Virgin Coconut Oil)," kata Airlangga.

Ia pun mengapresiasi PT Bionesia Organic Foods (Eksportir Produk Kelapa Olahan ke Jerman) serta para Eksportir lainnya yang tetap mampu mendorong ekspor di tengah pandemi covid-19 ini.

“Kita tentu mengapresiasi PT Bionesia Organic Foods yang ditargetkan akan mengekspor dari awalnya US$ 10 juta menjadi US$ 20 juta dengan investasi US$ 25 juta, dan tentu ini mempekerjakan banyak tenaga kerja,” tegasnya

Sebagaimana diketahui, pandemi covid-19 telah berdampak luar biasa terhadap perekonomian global, tidak terkecuali dengan perekonomian Indonesia yang mengalami kontraksi -5,32% pada kuartal II 2020 yang lalu. Namun kondisi ini masih lebih baik dibandingkan dengan hampir semua negara lainnya, termasuk negara tetangga kita seperti Malaysia (-17,1%); Filipina (-16,5%); Singapore (-12,6%); dan Thailand (-12,2%).

Pandemi ini juga berdampak sangat besar pada tingkat pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau. Provinsi ini mengalami kontraksi sebesar -6,66% di kuartal II tahun 2020, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional. Dari sisi sektoral, sektor yang paling terdampak adalah sektor jasa penunjang pariwisata, yaitu transportasi, akomodasi, serta penyediaan makan dan minum.

Namun, kinerja ekspor dan impor terdampak minimal di Kepulauan Riau. Saat ini pemulihan ekonomi Indonesia pun telah menunjukkan perbaikan ke arah yang positif, terlihat dari penguatan berbagai indikator seperti penguatan indeks pasar modal dan apresiasi nilai tukar rupiah, perbaikan PMI Manufaktur, Indeks Keyakinan Konsumen, dan Pertumbuhan Penjualan Ritel.

Dengan modal ketahanan ekonomi yang lebih baik dibandingkan banyak negara lain di dunia dan perbaikan berbagai indikator utama, Pemerintah optimistis bisa melewati pandemi ini dengan baik. Apalagi didorong dengan langkah-langkah dan strategi yang dilakukan, termasuk kebijakan untuk memperkuat Neraca Perdagangan, yang mengalami surplus di bulan Agustus 2020 sebesar US$ 2,3 miliar, dan Januari sampai Agustus 2020 mengalami surplus US$ 11,05 miliar. (E-1)

BERITA TERKAIT