27 September 2020, 03:40 WIB

Erick Thohir: Mengungkap Prinsip


Bagus Pradana | Weekend

DI antara sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju yang terus melakukan dobrakan ialah Erick Thohir. Sebagai Menteri BUMN, Erick tidak ragu-ragu merampingkan jumlah perusahaan pelat merah dan memecat para direksi yang bermasalah.

Dari 142 BUMN, Erick setidaknya telah memangkas 35 dan terus akan dirampingkan hingga rencananya tersisa 40 BUMN saja.

Di samping terus merestrukturisasi BUMN, pria berusia 50 tahun ini juga dipercayakan tugas baru oleh Presiden Joko Widodo sebagai Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19, sejak Juli lalu.

Dobrakan dan prestasi sesungguhnya memang bukan baru di perjalanan karier Erick. Meski terlahir dari keluarga pebisnis top Tanah Air, putra dari almarhum Mochamad ‘Teddy’ Thohir yang dahulu merupakan salah satu pemegang saham Astra ini, juga besar karena sepak terjang bisnisnya sendiri.

Lewat Mahaka Group yang ia dirikan selepas studi di Amerika Serikat, Erick bisa menjadi raja media dan periklanan. Di antara sederet perusahaannya ialah Harian Republika, Jak TV, Gen FM, Jak FM, dan ia juga mendirikan TV One dan Viva News bersama Anindya Bakrie.

Erick juga memiliki sederet bisnis di bidang olahraga. Di antaranya, ia ialah pendiri klub basket Satria Muda dan pernah menjadi pemegang saham Persib Bandung. Nama Erick kemudian menjadi ibarat selebritas di Tanah Air ketika menjadi pemegang saham mayoritas Inter Milan. Sebelumnya, ia sudah meroket dengan menjadi orang Asia pertama yang memiliki saham tim basket NBA, yakni Philadelphia 76ers.

Pengalaman di dunia olahraga membuat pria yang menjabat Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia 2006-2010 ini ditunjuk sebagai Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018 Jakarta–Palembang. Sukses di ajang itu menjadi pintu masuk bagi Erick untuk terjun ke dunia politik. Ia ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019 dan selanjutnya masuk ke kabinet.

“Ketika bapak Presiden memberikan amanah kepada saya, saya bilang kepada beliau, ‘Bapak yakin dengan saya?, nanti bukannya akan confl ict of interest?’. Beliau bilang, ‘Pak Erick sudah membuktikan di Asian Games, lalu di TKN (Tim Kampanye Nasional). Pak Erick juga bisa’. Ya saya tidak bisa ke manamana lagi kan,” papar Erick Thohir saat menjadi bintang tamu Kick Andy, episode Apa Adanya yang tayang hari ini.


Didikan ayah

Dalam episode ini, Erick mengungkap soal prinsip-prinsip yang selalu ia pegang sejak dulu dan terus dijalani saat kini menjadi pejabat publik. Prinsip yang diajarkan sang ayah itu ia yakini menjadi kunci suksesnya.

“Saya selalu percaya bahwa saya itu bisa sukses karena tiga hal. Pertama, memang dari diri saya sendiri pakai hati, kedua ialah tim yang saya bangun, dan ketiga Lillahi Ta’ala, itu aja,” tutur adik dari pengusaha yang berada di urutan ke-17 daftar orang terkaya RI menurut Forbes, Garibaldi Thohir.

Erick juga mengenang jika sang ayah yang berpulang pada 2016 selalu mengingatkan akan berserah kepada Allah SWT. “ Almarhum bapak saya mengajarkan kepada saya bahwa yang namanya kesuksesan dari manusia itu kadang-kadang sudah ada jalannya sendiri-sendiri dari Allah, tapi poinnya harus kita pegang ialah kerja sebaikbaiknya dan percaya ketika kita mengerjakan sesuatu sebaik mungkin, hasilnya juga biasanya baik.” papar pengusaha berdarah Lampung itu.

Dalam hal pengelolaan BUMN, Erick sangat sadar jika tidak melulu soal profi t. BUMN memiliki kewajiban memberikan pelayanan publik sehingga membutuhkan perlakuan khusus dalam pengelolaannya. “Sejak awal saya diberi amanah oleh Bapak Presiden, ini juga menjadi saat BUMN harus dikelola secara lebih efi siensi, transparansi, dan berdaya saing. Oleh karena itu, saya menawarkan transformasi di tubuh BUMN,” jelas Erick.

Erick mengaku salah satu hal yang paling berat saat menjabat sebagai menteri ialah ketika ia harus bertindak tegas kepada bawahannya. Salah satu ketegasan yang sering membuatnya gusar ialah saat ia harus memecat atau melepas mereka.

“Kalau dengan melepas orang itu BUMN akan menjadi lebih sehat, kan itu manfaatnya justru lebih besar daripada kita harus melindungi satu atau dua oknum yang akhirnya karena rasa iba kita, dampak ekonomi yang ditimbulkan justru lebih besar apalagi di masa pandemi seperti ini, itu akan menjadi kerugian besar untuk kita,” tegasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT