27 September 2020, 02:45 WIB

Gurihnya Soto dengan Rempah yang Ringan


MI | Weekend

SOTO bisa dibilang salah satu hidangan yang sangat mewakili keragaman Nusantara. Hampir setiap wilayah di Tanah Air memiliki sajian soto khasnya sendiri.

Penyebutan soto pun bisa beragam sesuai dengan dialek atau bahasa daerah masing-masing, di antaranya adalah sroto, tauto, hingga coto. Apapun sebutannya pada dasarnya soto adalah hidangan beragam isian yang kemudian disiram dengan kuah panas.

Perbedaan dengan sop yang juga memiliki banyak isian adalah pada pemasakan. Jika pada sop bahan-bahan isian dimasak bersama hingga matang, pada soto tidak. Bahkan ada isian yang dimasak dengan cara berbeda, misal digoreng.

Bagi Anda yang ingin menjelajah beberapa keragaman soto Nusantara secara sekaligus, Abba Soto bisa menjadi pilihan. Baru berdiri Juni 2020, Abba Soto menyuguhkan lima sajian soto yang cukup terkenal yakni soto betawi, banjar, bogor, bandung, dan kudus.

Minggu (20/9), Media Indonesia berkesempatan mencicipi dua di antara menu andalan itu, yakni soto betawi dan soto bogor atau lebih dikenal sebagai soto mi bogor. Karena mengikuti kebijakan PSBB jilid II di DKI Jakarta, Media Indonesia tidak menyantap hidangan tersebut di resto yang terletak di Epicentrum Walk, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, melainkan menggunakan layanan antar.

Kedua hidangan diterima dalam keadaan terkemas rapi dan masih hangat. Sajian soto betawi hadir dengan isian yang lengkap. Isian utamanya bukan hanya daging sengkel, yang memang daging khas untuk soto, melainkan juga babat. Sementara isian pendamping dan pelengkapnya adalah kentang, tomat, babat, emping melinjo, daun bawang, dan bawang goreng. Aroma harum rempah itu langsung terhirup sementara rasa gurih juga begitu terasa sejak ‘sruputan’ pertama. Meski menyertakan begitu banyak daging dan babat, kuahnya tidak meninggalkan lengket lemak di mulut.

Untuk kuahnya, Salah satu awak dapur Abba Soto, Amos Allister menjelaskan mereka memang tidak ingin ‘pelit’ dalam menyertakan rempah. Di antaranya adalah kayu manis, bunga lawang, cengkih, dan beberapa materi lainnya, termasuk minyak samin.

Namun ia menjelaskan hidangan mereka saat ini sebenarnya sudah dibuat lebih ringan dari sebelumnya. “Pernah suatu kali kita kencengin rempahnya, nah itu kita tanya ke orang-orang ternyata justru tidak terlalu suka. Jadi mereka lebih ingin cari yang gurih-gurih begitu, lalu akhirnya kita adjust begitu,” imbuhnya.

Beralih ke soto mi bogor, paduan sereh, lengkuas, jahe dan daun jeruk, menghasilkan aroma kuah yang segar. Isian pada soto ini juga lengkap, mulai dari kikil, mi kuning, dan risol isi bihun, selain juga tetap menyertakan daging sengkel. 

Selain mengedepankan kepiawaian dalam mengolah rempah, setidaknya ada hal lain yang juga dapat dicatat dari dua menu yang dihadirkan Abba Soto kali ini. Pertama ialah bagaimana cara mereka mengolah daging, babat, dan kikil, serta kedua, ialah bagaimana cara mereka memilih dan mengolah sambal.

Abba Soto memilih menggunakan sambal yang biasa digunakan pada sate taichan, baik untuk soto betawi maupun soto mi bogor. Menurut Amos, sambal ini dipilihkarena sifatnya yang universal sehingga cocok untuk dua varian soto tersebut.

Rasanya tidak terlalu pedas, tapi segar ketika dicampur ke dalam kuah. Ia juga tidak merusak itu cita rasa dasar (base) dari kuah soto itu sendiri. Tiap porsi soto dibanderol dengan harga Rp28.000, dan sejauh ini Abba Soto rata-rata telah menjual 50-70 porsi soto setiap hari. (Gas/M-1)

BERITA TERKAIT