27 September 2020, 00:35 WIB

Ulama tanpa Sertifikat


Ono Sarwono Penyuka wayang | Weekend

BELAKANGAN ini isu lama muncul lagi. Pemerintah membangunkan gagasan mewajibkan penceramah agama atau dai besertifikat. 
Seperti yang lalu, rencana itu kembali memunculkan polemik tidak berkesudahan. Perbedaan pendapat terjadi karena lain sudut padang. Penyertifikatan diperlukan sebagai standar keilmuannya dan guna mencegah penyemaian radikalisme, sedangkan yang menentang menilai kebijakan itu mengontrol agama. 

Bahkan, ada yang menuding pemerintah otoriter karena mengekang kebebasan. Dalam cerita wayang, ada ‘ulama’ meski tanpa sertifikat, tapi sangat dihormati dan disegani karena kedalaman ilmu dan kesucian jiwanya. 

Perilaku serta ucapannya selalu menyejukkan dan mencerahkan. Ia benar-benar istikamah dengan keulamaannya yang melulu mengajarkan keutamaan, bukan yang lain.


Bersumpah wadat

Sang ulama tulen itu bernama Bhisma. Ia bukan ulama jalanan atau jadi-jadian yang mengejar sesuap nafsu duniawi. Jiwa dan raganya diwakafkan untuk suburnya keluhuran moral manusia. Ia pun seseorang patriot.

Pada masa kecilnya, ulama karismatik itu bernama Dewabrata. Nama Bhisma, yang berarti dahsyat, disematkan padanya oleh dewa setelah ia bersumpah bhishan-pratigya, yang artinya sumpah membujang hingga akhir hayat (wadat). Prasetianya itu dilatarbelakangi baktinya kepada orangtuanya.

Sebagai putra tunggal Prabu Sentanu dengan Dewi Gangga, Dewabrata berhak atas kekuasaaan Negara Astina. Namun, karena ayahnya menikahi Durgandini--pascaditinggal Gangga yang kembali ke Kahyangan--dan meminta syarat agar anaknya kelak yang nglungsur keprabon (menjadi raja), Dewabrata mengalah.

Sumpah wadat itu untuk memastikan dirinya tidak memiliki keturunan. Dengan demikian, tidak perlu ada keraguan atau kekhawatiran Durgandini sekaligus menjamin hanya keturunannya yang akan menjadi raja. 

Dari pernikahan Sentanu-Durgandini lahirlah Citranggada dan Wicitrawirya. Sejak awal, Bhisma ikut membimbing dan mendidik kedua adiknya lain ibu itu. Malah, dewasanya, Bhisma-lah yang mencarikan jodoh mereka dengan mengikuti sayembara di Negara Kasi. 

Ia menang sehingga memboyong tiga putri, yakni Amba, Ambika, dan Ambalika. Ambika dinikahi Citranggada, Ambalika menjadi milik Wicitrawirya, sedangkan Amba meninggal dunia karena terkena panah Bhisma. 

Semula Bhisma bermaksud menakut-nakuti Amba karena terus mendesak agar dinikahinya, tetapi di luar kuasanya, anak panahnya lepas. Setelah Sentanu mangkat, Citranggada menggantikannya sebagai raja. 

Namun, ia meninggal dunia di usia muda tanpa memiliki keturunan. Wicitrawirya melanjutkannya sebagai raja Astina. Kodratnya sang bungsu itu juga tidak berumur panjang dan juga tidak memiliki anak.

Durgandini lalu mengangkat Abiyasa, putranya dari pernikahan sebelumnya dengan Palasara, menjadi raja bergelar Prabu Kresnadwipayana. Raja berdarah resi itu dinikahkan dengan janda Ambika dan Ambalika serta dayang istana bernama Datri.

Dari Ambika, Abiyasa memiliki anak yang diberi nama Drestarastra, sedangkan dengan Ambal ika juga mendapatkan anak laki bernama Pandu. Sementara itu, dengan Datri, lahirlah Yama Widura.


Mencarikan guru

Selama kepemimpinan di Astina silih berganti, Bhisma menjadi paranpara yang senantiasa  menjaga martabat Astina. Ia juga berkepentingan dengan generasi pemimpin negara. Jangan sampai pemimpin negara ke depan tidak bermutu.

Oleh karena itu, Bhisma mencarikan guru bagi Pandawa dan Kurawa, para pangeran yang bakal meneruskan kepemimpinan di Astina. Keturunan Pandu dan Drestarastra itu harus dididik agar menjadi para kesatria pilih tandhing, yang hebat luar-dalam.

Bambang Kumbayana dipilih Bhisma untuk menggeladi Pandawa dan Kurawa. Namun, pada akhirnya hanya Pandawa yang berjumlah lima orang yang berhasil menjadi para kesatria hebat, sedangkan Kurawa, yang berjumlah seratus, gagal karena terbuai nafsu kekuasaan.

Kurawa menjadi manusia bengis. Mereka mencampakkan semua ajaran Kumbayana alias Durna. Duryudana dan adikadiknya malah berkomplot dengan Sengkuni. Sang paman dari pihak ibunya itu mementori Kurawa untuk merampas takhta Astina yang sejatinya hak Pandawa sebagai ahli waris.

Tidak berhenti di situ. Kurawa terus berusaha menyirnakan Pandawa. Mereka berkeyakinan selama saudara sepupunya itu masih ada, kekuasaannya di Astina tidak akan langgeng. Maka, apa pun dilakukan agar Pandawalenyap.

Ketika rezim zalim Kurawa berkuasa, Bhisma memilih keluar dari istana dan kemudian tinggal di Padepokan Talkanda menjadi ulama. Sikapnya yang demikian itu bukanlah karena benci kepada Kurawa. 

Ini hanya karena ia tidak merasa nyaman berada di lingkungan orang-orang yang tidak berbudi. Namun, tanggung jawabnya sebagai ulama sepanjang masa. Setiap waktu ia berusaha memperbaiki moral Kurawa.

Ia tidak bosan-bosan dan mengentengkan langkah kakinya datang ke istana Astina memberikan saran, nasihat, dan wejangan luhur meski semuanya itu sia-sia. Kadang kala Duryudana, sebagai raja, mengundang Bhisma untuk dimintai pendapatnya tentang sebuah kebijakan. 

Bhisma selalu memenuhinya, tapi saran dan nasihatnya tidak pernah digubris karena selalu bertolak belakang dengan kehendak raja. Duryudana maunya setiap keinginannya diamini. Bhisma tidak mau memberikan restu kebijakan yang jelas-jelas menerjang nilai-nilai keutamaan.

Apalagi, langkah Duryudana selalu menargetkan Pandawa sebagai korban penyirnaan. Sepanjang hayatnya, Duryudana hanya sibuk untuk mempertahankan kekuasaannya.

Mempertahankan tanah air Selain senantiasa menyebarkan nilai-nilai moral, Bhisma juga berbakti kepada Ibu Pertiwi. Ini dibuktikan ketika Bharatayuda, perang antara Pandawa dan Kurawa, generasi yang sejak dini ia gadang-gadang bersatu dan bahumembahu membangun Astina yang gilang-gemilang.

Bhisma berada pada posisi mempertahankan Astina. Maka, ia dikesankan seolah membela  Kurawa, tapi sejatinya, Bhisma semata-mata membela tanah airnya. Pandawa juga sebenarnya tidak menggempur Astina, tetapi sekadar membersihkan negara itu dari suburnya nafsu keangkaramurkaan.

Dari kisah singkat ini mengambarkan sosok ulama sejati sekaligus warga yang mencintai tanah airnya. Satu sisi, ia menyebarkan ajaran keutamaan, di sisi lain berkewajiban menjaga kehormatan tanah airnya. Keluhuran budinya itulah yang menjadikannya mustikaning (bintang) jagat. (M-2)

BERITA TERKAIT