27 September 2020, 00:10 WIB

Saudara yang Sempurna


Benny Arnas | Weekend

TIDAK ada yang sempurna. Tapi, kamu kenapa selalu mendapatkan segalanya, bahkan dengan membuat gumpil kegembiraanku?

Di SMP, kamu juara puisi ketika aku menang lomba lukis; kita pun lulus dengan nilai yang sama. Di SMA, ketika aku juara kelas, kamu juga meraihnya di kelas yang lain. Sekelas di kelas tiga, aku berhasil menggesermu ke peringkat kedua, tapi Adit yang sudah dekat denganku sejak kelas dua malah
memboncengmu pulang. 

“Maaf, Kak,” katamu dengan air muka bersalah. Kau memanggilku Kakak sebab kata ibu aku lebih dulu beberapa menit dilahirkan. 

“Aku sudah menolak, tapi Adit juga mau belajar sama Sensei Bata ...” 

“Kami memang dekat, Jannah,” potongku. “Tapi, aku akan mencampakkan playboy itu di hari kau merebutnya. Kau percaya dia juga mau belajar membaca Huruf Kanji? Ingat, Jannah! Adit itu lakilaki sebagaimana ayah!

“Kak?”

“Tidak cukupkah kekerasan yang diterima ibu jadi pelajaran? Kau tahu, bukan, bulan depan ayah dan ibu resmi berpisah? Ayah tidak perlu lagi menjaga citranya sebab dia tidak berniat maju di pileg tahun depan. Laki-laki di mana saja begitu!”

Sungguh, sikapmu yang sok lugu membuatku muak, hingga... aku akhirnya bermanuver. Kaudan Ibu pasti syok dan kecewa, tapi risiko harus kuambil untuk mengalahkanmu!

Ya, kau lalu ikut ibu yang hanya seorang tukang jahit dan aku mengekor ayah yang fokus mengembangkan perusahaannya di Jakarta. Sejak itu, aku merasa tatapanmu selalu meneriakiku orang munafik. Ah!

Setahun kemudian aku mengirim kabar kelulusanku di Meiji University. Tak sia-sia ayah membiayaiku kursus intensif bahasa Jepang di Kemang. “Aku belum siap,” kataku ketika kau memberi tahu Ibu ingin bicara. Ya, aku merasa sangat bersalah kepada ibu.

“Aku ikut bangga, Kak!” katamu berusaha mencairkan suasana. Kau menceritakan kuliahmu di sebuah kampus swasta di Lubuklinggau. Tentu saja aku menang banyak, meski kekalahan tak terdengar dalam nada bicaramu.

Suatu hari kau mengadu tentang ayah yang tak pernah mengirimkan uang bulanan sebagaimana kesepakatan pascaperceraian. Ayah bergeming ketika aku menyampaikannya. Aku tak mau mendesaknya.

Ia sudah mau membiayai kuliahku saja, sudah lebih dari cukup. Sejak itu kau tak pernah menghubungiku sebelum dua bulan lalu kau tiba-tiba menelepon. 

“Aku menang lomba karya tulis ilmiah, Kak,” katamu bersemangat. “Aku ...”

Aku memutuskan sambungan dan memblokir nomormu. Hei, Jannati, kenapa harus dongkol? Kau kuliah di kampus ternama di Chidoya City. Bulan depan kau juga akan menyambut rombongan mahasiswa berprestasi se-Asia, sedangkan kembaranmu malah sibuk dengan kampus buluknya di Lubuklinggau dengan prestasi recehnya!

Tapi… kau adalah hantu gentayangan yang menembus ruang dan waktu. Bagaimana bisa satu dari dua perwakilan mahasiswa berprestasi Indonesia yang dikirim ke Tokyo itu adalah kamu?! Kau memandangku sekilas sebelum naik podium. Apa? Kau presentasi dalam bahasa Jepang?

Aku tiba-tiba ingat Sensei Bata. Aku tak pernah menyangka kau mengejarku sejauh ini. Kamu jahatsekali, Jannah! Ketika tepuk tangan bergemuruh dan orang-orang mengerubungimu, aku meninggalkan tempat acara dan kembali ke hotel yang disewa kampus untuk panitia. 

Seusai makan malam, kau menemuiku di kamar. Ah, kau pasti merasakan betapa berat aku membalas pelukanmu. Di balkon kamar, kau memuji kulitku yang putih dan menebak aku menggunakan kosmetik produk Jepang yang kalau di Indonesia harganya selangit. 

“O ya, ibu sudah mulai sakit-sakitan, Kak,” kau cepat sekali lompat materi. Kentara sekali pujian tadi adalah basa-basi. 

“Di Indonesia sekarang baru pukul sepuluh. Mungkin ibu belum tidur. Aku bisa meneleponnya kalau  kakak mau bicara. Ibu menanyakan kakak terus.”

Aku menggeleng. Aku masih belum siap. Aku melepas pandang ke gedung-gedung tinggi kota Tokyo di kejauhan yang menyerupai himpunan menara berhinggap kunang-kunang. 

“Kak?”

Bunyi bel pintu menyelamatkanku. Pesanan makanan datang. “Aku tahu kamu tidak suka makanan Jepang, tapi onigiri di Yasuke Hotel adalah yang terbaik di Chidoya. Kamu mesti coba, Jannah!” seruku begitu pelayan meninggalkan kami.

Kau masih sempurna. Tidak pernah membantah dan selalu memercayaiku. Kau bersemangat sekali melahap compokan nasi berbumbu khusus itu. “Lezat sekali,” katamu antusias.

“Ayo, Kakak makan juga!” Kau mengambil sebongkah onigiri dan menyorongkannya ke mulutku. Bayangan masa kecil menyerangnyerangku; bermain cengkleng di bawah kanopi ketapang yang rindang di pekarangan, keriuhan membantu ibu memasak dan membersihkan rumah tiap pagi dan sore, berebutan meraih oleh-oleh di tangan ayah saban ia pulang dari luar kota, dan tentu saja keseruan kita menghabiskan bekal dari kotak makan siang yang sama, oh ....

“Kakak menangis?”

Aku menggeleng dengan mulut penuh nasi. “Mungkin kelilipan,” aku menyeka mata yang hangat.

“Angin mulai kencang. Ayo kita masuk!” Dadaku sebak. Aku benci persaingan ini! Di dalam, kau bercerita tentang seorang duda yang ingin melamarmu. 

“Aku mempertimbangkannya karena ia berjanji akan mengobati Ibu sampai sembuh,” suaramu mulai parau.

“Dia ayahnya Adit, anggota dewan seperti ayah dulu!” tangismu pecah.

Aku menarikmu ke dadaku, memelukmu lagi sebagai adik setelah sekian lama. Aku tak berkata apa-apa. Aku berusaha tegar, tapi mataku basah juga. Apakah artinya sekarang aku sudah menang atau kalah untuk kesekian kali oleh ketulusanmu merawat ibu?

Lima tahun setelah pertemuan itu, kita tak pernah bertukar kabar. Sejak memergoki ayah membawa perempuan ke apartemen di liburan semester akhir di Jakarta, aku pikir sudah saatnya kami berpisah. 

Aku terbang ke Tokyo dengan menguras tabungan dan menyelesaikan S-2 di kampus yang sama, mengandalkan beasiswa dan upah mencuci piring di kedai ramen yang tak seberapa. Kini, aku sudah memperoleh yang kumau: pendidikan yang tinggi dan karier yang bagus sehingga bisa mengirimi Ibu uang tiap bulan lewat rekeningmu.

Meskipun tak seberapa, aku menolak kalah telak darimu. Beberapa teman-kantor yang tak mampu melepaskan diri sebagai pribumi yang pernah dijajah menyarankanku mencari pendamping setiap kali aku mengeluh.

Menjadi manajer regional di penerbitan terkemuka ternyata tak melimpahiku dengan ilmu dan kegembiraan, tetapi tekanan dan kegusaran. Hari-hariku hanya tentang rutinitas kantor, jadwal konsultasi dokter yang tak menentu, obat tidur dengan dosis yang selalu bertambah, dan tangis tengah malam tanpa alasan yang jelas. 

Dasar inlander! Menikah tentu bukan solusi! Di tengah kekacauan ini, kau dan Ibu hadir dalam mimpiku suatu malam. Aroma pekarangan ini masih sama, meski pohon ketapang itu sudah ditemani sawo dan jambu biji yang tak kalah rimbun.  Kau, yang sedang membereskan makanan di atas meja di muka pintu, langsung mengelap tanganmu dengan ujung daster lalu memelukku erat. “Kok enggak bilang-bilang kalau mau pulang, Kak?” saking harunya suaramu bergetar.

Di kamarnya, wajah perempuan 60 tahun itu pucat. Suara cemprengnya—memanggil kedua putri kecilnya untuk mendekat mendengarkan andai-andai di tempatnya terbaring saat ini mengusal-ngusal ingatan dan memorakporandakan keakuanku.

Stroke membuatnya hanya bicara lewat mata. Aku cium punggung tangannya lalu memeluk tubuhnya yang ringkih dengan penyesalan yang mengiris-iris ulu hati. Di wajahnya, aku menangkap keletihan yang kehilangan garis tepi. Satu, dua, lima detik kemudian ... matanya berkedip dan air hangat jatuh berbulir-bulir.

Aku menangis meraung-raung dan mencium pipinya yang basah bertubi-tubi. “Alangkah hebatnya dirimu, Dik. Punya suami seorang anggota dewan yang sangat pengertian sehingga kau leluasa merawat ibu,“ kataku begitu ibu terlelap setelah aku menyuapinya tiga sendok bubur buatanmu. 

“Pasti ia sudah habis uang banyak untuk mengobati ibu meskipuntampaknya kondisi Ibu belum banyak perkembangan.”

Kau menggamit tanganku dan menatapku dalam. Aku ingin bilang jangan ikut-ikutan menangis, tapi kata-katamu berikutnya membuatku tahu kalau kau lebih berhak melinangkan air mata.

“Laki-laki itu tak pernah mengobati ibu, Kak. Bahkan, dialah yang menyebabkan ibu seperti ini. Dua kali ibu pingsan karena menjadi saksi bagaimana tangannya melayangkan kursi yang hancur berkeping-keping di punggungku.”

Oh …. “Selain menjadi guru honor di beberapa sekolah, aku berjualan nasi gemuk untuk menambah penghasilan. Kakak tidak lihat meja daganganku di depan tadi?”

Aku adalah kaca yang baru saja dibanting begitu mengetahui kenyataan itu. “Aku justru selalu iri kepadamu, Kak.”

Aku tak menangkap kepurapuraan di mata sayumu. “Kakak begitu mandiri di bawah didikan ayah yang keras. Kakak mendapatkan  semuanya; sekolah dan karier bagus sehingga bisa mengirimi kami uang bulanan.

Kakak juga bisa memilih untuk tidak menikah. Kalau tidak mengingatmu di luar sana, aku tak punya alasan untuk bertahan.”

Pipi kami sudah terasa lengket oleh air asin yang sedari tadi menghangatkan duha yang makin condong.

“Aku sudah janda, Kak,” katamu dengan suara yang ditegartegarkan. Untuk kesekian kali, aku tumbang dan ... kalah lagi.*** (M-2)
 

BERITA TERKAIT