26 September 2020, 15:38 WIB

Menulis Tajam Karena Provokasi Calon Mertua


Ade Alawi | Politik dan Hukum

SEJUMLAH kisah menarik tentang sosok Hakim Konstitusi Saldi Isra (2017-2022) terungkap dalam Unand Inspiring yang digelar Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat, secara daring via zoom meeting, Jumat malam (25/9).

Acara yang dipandu Munzir Busniah (Dekan Fakultas Pertanian) dan Henny Herwina (Dosen FMIPA) dan dibuka Rektor Unand Yuliandri ini menjadi ajang buka-bukaan perjalanan hidup Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang, Sumatra Barat itu.

Ada kisah masa lalu Saldi yang getir, spiritualitas,  solidaritas persahabatan, keberanian, kemampuan menulis, dan  prestasinya dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.

Hadir sejumlah rekan dekat Saldi Isra sejak SMP dan SMA, rekan kuliah, rekan sejawat, dan rekan sepergaulan. Di antaranya hadir mantan Ketua Hakim Konstitusi I Gede Palguna, Prof Werry Darta Taifur, Prof Kurnia Warman (Unand) , Zainal Arifin Mochtar (UGM), dan Ade Alawi (Media Indonesia). Mereka memberikan testimoni tentang sepak terjang Saldi Isra.

Saldi mengaku produktifitas dan gayanya  menulis dipacu oleh calon mertuanya ketika itu, Ilhamdi Taufik yang juga mengajar di Fakultas Hukum Unand. “Pak Ilhamdi Taufik, saat itu masih berstatus calon mertuanya nanya ke saya, mau jadi dosen biasa saja atau luar biasa. Kalau mau jadi dosen biasa ya cukup mengajar di sana-sini, tapi kalua mau jadi dosen luar biasa, ya menulislah di media massa,” ungkapnya.

Namun, kata dia, setelah tulisannya banyak tersebar di media lokal dan nasional, di antaranya Media Indonesia, alih-alih diapresiasi oleh calon mertuanya itu, melainkan dicibir. “Tulisanmu begitu-begitu saja, kurang tajam. Calon mertua saya terus memprovokasi dengan kata-kata itu,” tuturnya. Alhasil, Saldi selain  frekuensi menulis, ketajaman analisa tulisannya pun ditingkatkan.

Mantan Komisaris Utama PT Semen Padang itu mengatakan, sejak kecil hingga mahasiswa hidupnya penuh keprihatinan. “Sejak SD saya jualan kue untuk membantu ekonomi keluarga. Kemudian selepas SMA karena gagal dua kali masuk ITB, saya merantau ke Jambi untuk mencari pekerjaan, menjadi buruh, sempat juga bekerja di toko milik warga Tionghoa,” kata pria tiga anak ini.

Setelah setahun bekerja di Jambi Saldi merasa sudah mendapat bekal untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. “Saya ikut tes PTN ambil Program IPC (Ilmu Pengetahuan Campuran). Pertama, Jurusan Teknik Pertambangan Unsri Palembang,  kedua, Jurusan Teknik Sipil Unand. Nah, pilihan ketiga kan nggak boleh kosong akhirnya saya memilih Jurusan Ilmu Hukum Unand. Akhirnya diterima di Jurusan Ilmu Hukum Unand,” jelas mantan Direktur Pusat Konstitusi (PUSaKO) FH Unand ini.

Impian Saldi sebagai pelajar berprestasi di jurusan eksakta (fisika) untuk kuliah dengan berasyik masyuk dengan rumus fisika dan matematika pupus. “Selama satu semester saya kuliah di Jurusan Hukum, saya masih nggak mengerti kemana arahnya. Setelah lulus mau jadi apa juga saya nggak tahu. Meskipun demikian, saya berhasil meraih IP 3,71 dan pada semester dua mendapat IP 4. IP tertinggi saat itu,” kata lulusan terbaik Unand pada 1995 ini.

Sebelum menjadi Hakim Konstitusi, disamping akademisi, penyuka olah raga bulutangkis ini  juga dikenal sebagai pegiat anti-korupsi hingga pernah meraih Bung Hatta Anti-Corruption Award. Dia juga pernah memotori pembentukan Forum Peduli Sumatra Barat (FPSB) yang membongkar kasus korupsi APBD Sumbar pada tahun 2002.

Dalam forum virtual malam itu, Saldi berpesan kepada mahasiswa dan koleganya di Unand untuk rajin menulis. “Tak ada kata rumus menulis selain memulai menulis. Di tengah-tengah kesibukan sebagai Hakim MK, saya selalu sisihkan waktu untuk menulis. Sejak dilantik sebagai Hakim MK saya sudah membuat beberapa buku. Insya Allah tahun depan terbit 1 buku lagi.” terangnya.

Pada peringatan usia 50 tahun Saldi Isra pada 2018 lalu, Saldi meluncurkan lima buku. Di antaranya “Konstitusi untuk Negeri” yang diterbitkan Media Indonesia. Buku itu berisi kumpulan  tulisan Saldi di Media Indonesia.  Yuk, kita menulis! (OL-4)

BERITA TERKAIT