26 September 2020, 11:45 WIB

Kemenparekraf Pacu Kreativitas Masyarakat Sibisa Danau Toba


mediaindonesia.com | Nusantara

DI tengah pandemi covid-19 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus menemui rakyat atau insan pariwisata Indonesia.

Seperti yang dilakukan di kawasan destinasi wisata Danau Toba yang terletak di pegunungan Bukit Barisan, Sumatra Utara (Sumut), Sabtu (26/9). Satu hal yang ditekankan ialah mendorong industri pariwisata Danau Toba kembali menjadi primadona setelah terdampak pandemi covid-19..

Ada dua program utama yang didorong Kemenparekraf yakni gerakan Bersih, Indah, Sehat, dan Aman (BISA) serta Bimbingan Teknis (Bimtek) SDM Ekonomi Kreatif Fotografi yang diselenggarakan di Desa Pardamean Sibisa, Kabupaten Toba. Program ini diikuti sekitar 100 peserta yang merupakan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif terdampak covid-19.

Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kabupaten Toba, Jhon Piter Silalahi, mengatakan, banyak industri kreatif di Pardamean Sibisa. Menurut dia, bimtek yang dilakukan Kemenparekraf ini sangat tepat sasaran.

Jhon mengaku  sangat tertarik karena fotografi melalui hanphone merupakan kebutuhan dasar para ekonomi kreatif di wilayahnya.

Menguatkan lini ekonomi masyarakat di tengah pandemi, imbuh Kadispar Toba, salah satu potensi yang dimiliki Toba dan sudah mendunia adalah kopi. Misalnya, kopi Mandailing yang sangat terkenal. Lalu juga Kopi Lintong Ni Huta, Sidikalang, Sigararutang, Siporok dan Simalangun yang tak kalah tersohornya di mata turis mancanegara. 

"Kopi di sini memiliki karakter tersendiri, beraroma floral dengan tingkat keasaman mulai lembut hingga tinggi. Tentu ini juga potensi yang terus kita kembangkan. Nah, promosinya pakai foto handphone. Cerdas banget ini Kemenparekraf. Terima kasih banyak pemerintah pusat," kata Jhon.

Lebih lanjut Kadis mengatakan, karakter tambahan kopi Toba cenderung earthy, grassy, dan yang paling unik adalah kesan spicy yang mengacu pada andaliman, bumbu rempah khas setempat.

Cita rasa itu kental dirasakan pada kopi Lintong yang dihasilkan dari lereng pegunungan Pinapah dan Sihab yang terletak di selatan Danau Toba. Adapun kopi Mandailing ditanam pada dataran tinggi dengan intensitas hujan sedang hingga tinggi. 

Jhon berharap program ini terus dilanjutkan oleh Kemenparekraf/Baparekraf. Sebab, program yang dirancang Kemenparekraf memperhatikan semua aspek diperhatikan mulai dari bahan baku, proses pengolahan, hingga penyajiannya. 

"Program BISA dan Bimtek Fotografi ini semakin mempertebal nilai tambah bagi destinasi wisata dan ekonomi kreatif di kawasan Toba," paparnya. 

Fotografer profesional Denny Herliyanso yang menjadi narasumber, mengatalan para peserta sangat antusias menyimak materi berupa pengetahuan dasar fotografi dengan memakai smartphone

"Saya sangat senang ilmu yang saya berikan bermanfaat untuk masyarakat, kondisi sekarang memang sangat mengkhawatirkan dengan adanya pandemi, namun dengan kemampuan mereka meningkat di fotografi menggunakan smartphone, semoga mereka tetap bisa mempromosikan ekonomi kreatifnya di sosial media," harap fotografer yang sudah keliling dunia tersebut.

“Toba memiliki potensi industri ekonomi kreatif yang beragam. Potensi Toba sebagai destinasi wisata dunia tentu harus didukung. Untuk itu, sinergi besar seluruh stakeholder pariwisata sangat diperlukan di sini,” tegas Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya.

Menaikkan daya tawar Toba, aksi riil pun dilakukan. Melalui program BISA, dukungan berupa Wastafel Portable Anti Covid-19 dan peralatan kebersihan diberikan. Wastafel ini didesain khusus dengan meminimalkan sentuhan tangan. Bila ingin mengalirkan air, tinggal menekan pijakan kaki di bawah. Pun demikian dengan sabun pencucitangannya.

Rangkaian program BISA dan Bimtek SDM Ekonomi Kreatif Fotografi ditutup dengan aksi bersih-bersih di kawasan wisata Danau Toba yang terkenal dengan keindahan alamnya yang hijau.

Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Muh. Ricky Fauziyani mengatakan, seluruh potensi yanf dimiliki Toba mendapatkan porsi branding ideal.

“Program BISA dan Bimtek SDM Ekonomi Kreatif Fotografi memiliki posisi strategis. Keduanya saling terkait. Yang jelas, Toa mendapatkan porsi branding yang besar dari program ini. Toba sebagai destinai wisata dunia tentu harus disupport karena potensinya luar biasa untuk menarik arus kunjungan wisatawan,” tutup Ricky. 

Analis Kebijakan Ahli Madya Koordinator Edukasi 2, Jemmy Alexander mengatakan, Danau Toba merupakan brand besar yang sudah mendunia dengan beragam potensi yang ditawarkannya. Tak hanya destinasi wisata, Toba juga memiliki potensi besar di lini ekonomi kreatif. Destinasi ini kuat di sektor perkebunan dan pertanian, khusunya kopi Toba yang terkenal begitu nikmat.

"Melalui program BISA dan Bimtek SDM Ekonomi Kreatif Fotografi ini kita berharap segala potensi yang dimiliki oleh Toba dapat lebih dieksplorasi lagi sehingga menjadi kekuatan bagi Toba meski di masa pandemi ini," katanya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT