26 September 2020, 07:20 WIB

Teknologi Hijau Ozon untuk Lindungi Bumi


(Aiw/H-1) | Humaniora

TAK dimungkiri lapisan ozon yang bermanfaat untuk menangkal radiasi ultraviolet (UV) dari matahari ke Bumi kini semakin menipis.

Kerusakan lapisan ozon, menurut ahli plasma dari LIPI Anto Tri Sugiarto, salah satunya disebabkan oleh kegiatan industri yang menimbulkan pencemaran udara, air, dan
tanah.

“Lapisan ozon yang menipis diakibatkan oleh pencemaran dari gas klorofluorokarbon (CFC) dan efek rumah kaca yang diakibatkan oleh berbagai gas yang mencemari
udara,” kata Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI ini.

Penipisan lapisan ozon membuat semakin banyak radiasi sinar UV masuk ke permukaan bumi dan menimbulkan dampak buruk bagi manusia: kekebalan tubuh menurun,
penyakit kanker, katarak, serta penuaan dini.

Radiasi sinar UV juga menimbulkan bencana ekologi seperti mencairnya gunung es di kutub karena suhu yang menghangat. Untuk menyelamatkan bumi dan
lapisan ozon, dibutuhkan kesadaran manusia dengan beralih ke teknologi hijau dengan memanfaatkan ozon dalam semua proses industri, sanitasi, dan konsumsi. Ozon dapat
dibuat dengan tiga metode, yaitu electrical discharge (plasma), ultraviolet, dan elektrolisa.

Saat ini metode plasma paling banyak digunakan karena mudah diaplikasikan dan mampu memproduksi ozon dalam jumlah besar. “Ozon sangat ramah lingkungan
yang dikenal juga sebagai green technology karena dapat mengurangi bahkan menggantikan penggunaan bahan kimia pada beberapa proses.

Pemanfaatan ozon pada pengolahan gas dapat mengoksidasi senyawa berbahaya seperti gas NOx dan SOx yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil sehingga udara
tidak tercemari,” jelasnya.

Ozon juga efektif dalam mengolah senyawa organik yang terkandung dalam limbah cair domestik dan industri. Saat ini pemanfaatan ozon telah berkembang sebagai pengganti
bahan kimia, salah satunya pada mesin cuci. Ozon dapat menggantikan detergen yang merupakan bahan kimia, sebagai pembersih kotoran yang menempel pada pakaian.

Beberapa negara maju kini sedang berlomba dalam penelitian dan pengembangan produk ozon sebagai disinfektan penganti bahan kimia yang ramah lingkungan, serta
melarang penggunaan air conditioner dan lemari pendingin dengan kandungan bahan perusak ozon seperti CFC, halon, karbon tetraklorida, dan metil kloroform.

Pengelolaan air minum dan pengelolaan air limbah juga sudah berbasis ozon. Kolam-kolam renang bertaraf internasional pun sudah melarang penggunaan kaporit
(kalsium hipoklrotis) dan beralih ke ozon.

“Tantangannya ialah untuk mengubah perilaku pelaku industri dan masyarakat agar komitmen terhadap kebersihan lingkungan bukan perkara mudah. Ini taruhannya
ialah keberlangsungan kehidupan,” tandasnya. (Aiw/H-1)

BERITA TERKAIT