26 September 2020, 07:00 WIB

BKKBN Targetkan Layani 250 Ribu Akseptor KB


(Ata/H-3) | Humaniora

BADAN Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menargetkan untuk dapat memberikan layanan kontrasepsi jangka panjang terhadap 250 akseptor keluarga berencana (KB) di Indonesia. Langkah ini merupakan upaya memaksimalkan layanan kontrasepsi yang sempat terhendi pada masa awal pandemi.

“Sekarang kita melakukan pelayanan serentak di seluruh Indonesia. Kita menargetkan pemasangan KB jangka panjang 250 ribu,” kata Deputi Bidang Keluarga Berencana BKKBN Dwi Listyawardani dalam peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia di Jakarta yang digelar secara daring, kemarin.

Dwi mengatakan terdapat tiga terobosan baru dalam pelayanan serentak tersebut. “Kita ada pil progestin untuk ibu menyusui, suntik hormon kombinasi agar aseptor bisa tetap menstruasi, dan implan batang. Ini agar aseptor bisa tetap nyaman,” ucapnya.

Dani mengakui, selama pandemi covid-19 angka kepesertaan KB menurun selama pandemi covid-19 karena keterbatasan akses pada pelayanan kesehatan

“Agustus dan September kita lalukan pelayanan serentak lagi. Karena KB ini harus terus diingatkan kepada masyarakat. Kalau tidak, semangatnya kadang
menurun,” ungkapnya.

Selain menargetkan metode kontrasepsi jangka panjang, BKKBN juga mengupayakan menjangkau daerah terpencil di Indonesia. Dani berharap pelayanan kontrasepsi
serentak ini dapat menekan angka kehamilan di masa pandemi covid-19. Pasalnya, diprediksi angka kelahiran akan meningkat sebanyak 10% karena banyaknya aseptor KB yang
putus pakai. “Kalau putus kontrasepsi, diprediksi akan terjadi kehamilan.

Diprediksi akan ada tanbahan 400-500 ribu kelahiran per tahun. Di Indonesia, rata-rata ada kelahiran 4,5 juta - 5 juta pertahun. Kita perkirakan akan ada 10% tambahan kelahiran,”
bebernya.

Pada kesempatan tersebut, BKKBN dan Bayer Indonesia meluncurkan program edukasi dan akses kontrasepsi bagi 25 ribu perempuan petani dan istri petani di Banten dan Jawa Barat untuk tahun 2020 - 2021.

“Tujuannya membantu BKKBN menurunkan total fertility rate (TFR) dan drop out kontrasepsi, serta kehamilan yang tidak direncanakan di daerah intervensi itu. Kami menargetkan
penambahan akseptor baru sebanyak 10% dari program ini,” kata Presiden Direktur PT Bayer Indonesia Angel Michael Evangelista. (Ata/H-3)

BERITA TERKAIT