26 September 2020, 06:55 WIB

Aplikasi Paket PJJ akan Terus Ditambah


ATIKAH ISHMAH WINAHYU | Humaniora

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim berjanji akan terus menambahkan aplikasi belajar yang diperlukan para siswa ke dalam
akses kuota belajar. Hal ini dilakukan untuk menambah kelengkapan dan akses siswa dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) Kebijakan ini sekaligus menjawab
polemik di masyarakat terkait porsi kuota umum dan kuota belajar yang tidak seimbang.

Padahal, banyak aplikasi PJJ yang digunakan oleh siswa tidak termasuk dalam daftar akses kuota belajar. “Kami akan terus menyempurna kan daftar ini. Kalau ada masyarakat yang
komplain, mungkin ada beberapa aplikasi yang belum kita masukkan kita akan senantiasa terus menambahkan aplikasi lainnya di dalam kuota belajar,” kata Nadiem dalam Peresmian Kebijakan Bantuan Kuota Data Internet Tahun 2020, kemarin.

Bantuan kuota internet itu dibagi atas kuota umum dan kuota belajar. Nadiem menjelaskan, jika porsi kuota umum lebih besar, dikhawatirkan siswa akan menggunakannya untuk
kegiatan lain, seperti main gim dan membuka aplikasi hiburan lain yang tidak semestinya.

“Pemerintah ingin memastikan bahwa ini digunakan untuk pembelajaran. Makanya untuk kuota umum yang bisa digunakan semua aplikasi porsinya lebih kecil,” tuturnya.

Kuota belajar digunakan untuk mengakses laman dan aplikasi pembelajaran, seperti Google Classroom, Duolingo, Edmodo, Microsoft Education, Quipper, Ruang Guru, Rumah
Belajar, Zenius, hingga WhatsApp, kuotanya lebih besar.

Sebagai informasi, paket kuota internet untuk pendidik PAUD dan jenjang dikdasmen sebesar 42 GB per bulan dengan rincian 5 GB kuota umum dan 37 GB kuota belajar.

Subsidi kuota internet tahap pertama bulan ini telah disalurkan kepada siswa, mahasiswa, guru, hingga dosen. Namun, hingga penyaluran tahap pertama (22-24 September)
telah berakhir, masih banyak pihak yang mengaku belum menerima kuota internet.

Nadiem meminta pihak-pihak yang belum mendapatkan subsidi agar tidak khawatir karena penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap.
 

Berbagi

Pembelajaran model daring di berbagai jenjang pendidikan akibat pandemi covid-19 yang dilaksanakan sejak Maret lalu diakui masih menemui kendala.

Tidak semua anak atau orangtua memiliki telepon seluler yang bisa dipakai untuk pembelajaran daring. Kondisi ini menjadi perhatian Ketua Umum Pertiwi Indonesia, Shinta
Omar. “Kami terpanggil saat mengetahui ada sejumlah anak di Kota Bandung yang tidak dapat melakukan pembelajaran daring karena tidak memiliki telepon seluler.”

Anggia Tjaja, Ketua Bidang Pendidikan Pertiwi Indonesia, langsung memprakarsai gerakan Ponsel Pintar untuk Anak Cerdas. “Kami menyalurkan bantuan telepon seluler yang memang sangat dibutuhkan,” katanya.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat juga mengajak seluruh komponen masyarakat terlibat mengatasi pandemi termasuk anggota Korps HMI-Wati ( Kohati-HMI) melakukan
pendampingan ke masyarakat yang terdampak pandemi.

“Kohati-HMI sebagai organisasi kepemudaan memiliki kekuatan yang luar biasa. Saya yakin bila kita bergandengan tangan, kita akan mampu mengatasi dampak pandemi ini,”
kata Lestari dalam diskusi bertema Produktivitas Kohati di era new normal, yang digelar, kemarin. (RO/H-1)

BERITA TERKAIT