26 September 2020, 06:50 WIB

Aksi Protes Generasi Muda Dunia Terkait Perubahan Iklim


mediaindonesia.com | Internasional

ANAK-anak muda di berbagai belahan dunia melakukan aksi untuk mendesak adanya tindakan darurat guna menghentikan bencana perubahan iklim. Mereka bersatu di bawah aktivis muda asal Swedia Greta Thunberg.

Dengan cuaca yang tidak menentu bisa mendatangkan malapetaka di seluruh dunia. Mulai dari kebakaran yang melanda AS Barat, hingga gelombang panas yang tidak normal di Kutub Utara Siberia dan rekor banjir di Tiongkok. Penyelenggaran aksi tersebut mengatakan protes akan mengingatkan para politisi bahwa sementara dunia fokus pada covid-19, krisis iklim belum hilang.

Demonstrasi direncanakan di lebih dari 3.100 lokasi, dengan Australia, Jepang, dan Fiji sebagai beberapa lokasi pertama di mana aksi akan dimulai. Meski demikian, aksi dilakukan dengan pembatasan terkait pandemi, banyak aksi bergeser menjadi online.

Di Stockholm, Thunberg dan beberapa anggota kelompoknya, Fridays for Future, berkumpul di luar parlemen.

Baca juga:  Greta Thunberg Cuti Selesai, Kembali ke Sekolah

Dia mengatakan dalam sebuah cuitan di Twitter yang diunggah pada hari Kamis (24/9), para pengunjuk rasa akan kembali minggu depan, bulan depan, dan tahun depan. Selama itu dibutuhkan.

Mitzi Jonelle Tan, seorang aktivis Fridays for Future berusia 22 tahun di Filipina, mengatakan pemerintahnya gagal melindungi orang-orang dari krisis iklim dan covid-19.

"Dengan krisis covid-19, kami benar-benar dipaksa untuk melihat betapa tidak proporsinya dampak krisis apa pun," kata Mitzi.

"Mereka masih memprioritaskan orang-orang kaya dibanding yang miskin, mereka masih tidak mendengarkan ilmu pengetahuan."

Di Australia, ribuan pelajar mengikuti sekitar 500 perkumpulan kecil dan protes secara daring, guna mendesak investasi dalam energi terbarukan dan menolak pendanaan proyek-proyek minyak.

Penyelenggara aksi meminta orang-orang untuk mengunggah gambar di media sosial dan bergabung dengan panggilan Zoom global 24 jam, sementara mereka yang turun ke jalan harus mengikuti pedoman lokal tentang ukuran pertemuan dan jarak sosial.

Demonstrasi tersebut terjadi setahun setelah dua pemogokan global besar-besaran yang membuat lebih dari enam juta orang turun ke jalan. Menurut penyelenggara, hal itu merupakan mobilisasi iklim terbesar dalam sejarah.

Demonstrasi hari Jumat fokus pada solidaritas dengan orang dan wilayah yang paling terkena dampak, komunitas yang telah berkontribusi sedikit terhadap emisi gas rumah kaca dunia, tetapi yang berada di garis depan ancaman iklim seperti banjir, naiknya permukaan laut dan invasi belalang.(Ant/OL-5)

BERITA TERKAIT