26 September 2020, 06:12 WIB

Saham Diblokir bukan karena Gagal Bayar


Tri/Ant/P-1 | Politik dan Hukum

KEJAKSAAN Agung menegaskan pemblokiran kepemilikan rekening saham Direktur Utama PT Hanson International Benny Tjokro pada PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaarta alias Wanaartha Life bukanlah penyebab utama gagal bayar yang dialami asuransi tersebut.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung Ali Mukartono menegaskan, Kejaksaan Agung hanya memblokir 800 subrekening efek milik Benny Tjokro kepada Wanaartha dan tidak ada kaitannya dengan nasabah Wanaartha lainnya.

“Jangan sampai gagal bayarnya di sana, kemudian digeser-geser, menjadi tanggung jawab kejaksaan karena kejaksaan baru melakukan penyidikan perkara ini di akhir Desember 2019, di akhir Desember. Ini kami harapkan pihak kejujuran dari direksi Wanaartha,” kata Ali.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI dengan Kejaksaan Agung secara virtual, Kamis (24/9), Ali pun menjelaskan sebetulnya Wanaartha telah mengalami gagal bayar pada Oktober 2019 atau sebelum pihak Kejagung melakukan pemblokiran rekening efek milik Benny Tjokro terkait dengan kasus Jiwasraya.

Penjelasan itu disampaikan sebab para karyawan dan nasabah Wanaartha melakukan demo di berbagai daerah guna mendesak Kejagung agar membuka pemblokiran rekening efek yang menjadi barang sitaan. Bahkan, mereka juga melayangkan surat pada Presiden Joko Widodo perihal tersebut. Presiden kemudian meminta agar Kejaksaan Agung segera bersikap untuk menyelesaikan kasus ini.

“Setelah demo dari pihak nasabah Wanaartha, oleh pihak Wanaartha sudah dilakukan pembicaraan dengan para pemegang polis itu menyatakan kejaksaan tidak salah menyita semacam itu.”

Saat ini, Benny Tjokro dalam taraf penyembuhan setelah positif terkena covid-19. Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pun sudah menunda persidangan tuntutan itu.

Hal itu diketahui sebelum sidang dibuka. Dokter Rumah Sakit Adhyaksa Siswo Santoso menyebut Benny sudah menjalani isolasi sejak Rabu, 23 September 2020.

Pada Selasa lalu, pemegang polis Wanaartha menuntut agar Kejagung segera membuka subrekening efek yang sebelumnya diblokir sebagai buntut penyelidikan kasus Jiwasraya.

Nasabah Wanaartha menggelar aksi damai serentak di lima kota, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Kediri, dan Palembang. Unjuk rasa ini juga dilaksanakan sebelum jaksa penuntut umum (JPU) membacakan tuntutan kepada para terdakwa kasus Jiwasraya.

“Bahwa dana yang mereka (Kejaksaan) sita bukanlah milik Wanaartha semata, melainkan juga milik pemegang polis,” kata Hendro Yuwono Salim, salah satu perwakilan nasabah Wanaartha di Jawa Timur. (Tri/Ant/P-1)

BERITA TERKAIT