26 September 2020, 05:00 WIB

Klaster Ponpes Melambung


Lilik Darmawan dan | Nusantara

PONDOK pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta Sumatra Selatan menjadi klaster baru penyebaran covid-19. Sudah ratusan santri terpapar sehingga diminta pengelola ponpes menghentikan sementara kegiatan belajar tatap muka.

Korban terpapar terbanyak terjadi di Ponpes Banyumas dan Kebumen, Jawa Tengah, yakni 126 dan 57. Jumlah santri yang terpapar memungkinkan bertambah karena hasil usap masih sebagian yang keluar.

Bupati Banyumas Achmad Husein telah bertemu dengan ulama dan tokoh agama Islam setempat. "Ponpes harus menata diri, berbenah diri, dan melindungi diri. Surat tengah kami siapkan untuk uraian aturan yang lebih jelas terlait kasus covid-19 yang melonjak," tutur Achmad, Jumat (25/9).

Santri yang terpapar berasal dari Ponpes Al Hidayah Purwokerto. Seluruhnya ada 126 santri dan telah diisolasi. Saat ini Pemkab Banyumas tengah melanjutkan tes usap terhadap ratusan santri lainnya.

Di Kebumen, kasus positif juga melonjak hingga 72 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 57 merupakan santri. Santri yang positif covid-19 masih berusia remaja.

Koordinator Bidang Humas Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kebumen, Cokro Aminoto, mengatakan 15 kasus di luar santri terpapar karena kontak erat dengan pasien lainnya.

Wakil Bupati Kebumen Arif Sugiyanto menilai perlu langkah cepat dan tepat untuk mengantisipasi menyebarnya covid-19 di ponpes. "Kebijakan antisipasi ialah pembatasan kegiatan sosial, peningkatan pendisiplinan dalam penerapan protokol kesehatan pencegahan covid-19, terutama 14 hari mendatang," tegasnya.

Terkait pembelajaran di dua ponpes itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta pengelola menutup sementara kegiatan belajar mengajar. "Jika dilanjutkan, itu akan sangat membahayakan," imbuhnya

Hentikan sementara

Di Jawa Timur, puluhan santri Ponpes Tahfidul Quran Mojowarno Jombang juga terkonfirmasi positif covid-19. Mereka kini menjalani karantina di gedung asrama mahasiswa Pondok Pesatren Darul Ulum.

Ke-20 santri yang terpapar terungkap setelah enam santri berobat ke puskesmas. Mereka mengeluh kehilangan daya penciuman. Petugas puskesmas langsung melakukan tes usap dan dinyatakan positif korona.

Camat Mojowarno Arief Hidayat mengatakan, dari temuan 6 santri kemudian bertambah menjadi 20. Mereka memiliki keluhan serupa dan hasil tes usap di RDK Mojowarno menyatakan terkonfirmasi positif.

Atas kejadian itu, camat bersama Forkopimcam Mojowarno melakukan pendekatan kepada Pengasuh Ponpes Tahfidh Quran. Pengasuh diminta menghentikan sementara semua kegiatan yang bersifat pengumpulan santri agar klasternya tidak bertambah luas.

Kondisi serupa menimpa puluhan santri Ponpes Mazroillah Lubuklinggau, Sumatra Selatan. Mereka menjalani isolasi dengan pengawasan dari Rumah Sehat Bandiklat Kota Lubuklinggau.

"Sebanyak 76 santri kita menjalani swab test dan dinyatakan positif covid-19. Agar virus tidak menyebar luas, para santri diboyong ke Rumah Sehat Bandiklat," tutur Humas Ponpes Mazroillah, Dahlan.

Menurut Dahlan, rata-rata kondisi santri sehat dan sama sekali tidak ada gejala. Terhadap santri yang negatif tetap berada di pondok, tetapi tidak diperkenankan bebas keluar-masuk untuk menghambat laju korona. (HT/FL/DW/N-1)

BERITA TERKAIT