26 September 2020, 05:23 WIB

Keamanan Siber Indonesia Tahun 2020 Membaik


Medcom/P-5 | Politik dan Hukum

BADAN Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyatakan keamanan siber di Indonesia pada 2020 membaik. Indonesia tak lagi berada di peringkat dua terbawah dari 76 negara soal keamanan siber, seperti pada 2019.

“Pada 2019 Indonesia berada pada rangking kedua terburuk setelah Algeria, tetapi segera membaik pada 2020 pada peringkat 21,” ujar Kepala Sub-Direktorat Identifikasi Kerentanan dan Penilaian Risiko Infrastruktur Informasi Kritikal Nasional III BSSN, Sigit Kurniawan, mengutip data dari Comparitech dalam seminar daring Waspada Kejahatan Pembajakan Kode Rahasia,” Kamis (24/9).

Aspek yang dinilai di antaranya persentase serangan malware pengguna di sektor keuangan, persentase komputer yang terkena malware, dan persentase serang botnet dari daerah asal. Serangan cryptominers atau sindikat penambang cryptocurrency, kesiapan dari serangan siber, dan kebijakan juga masuk aspek penilaian.

Indeks keamanan siber Indonesia juga menduduki peringkat 70 dari 194 negara pada 2017. Naik menjadi peringkat 41 pada tahun berikutnya. Aspek yang dinilai ialah hukum dan aturan, teknis, pengorganisasian, pengembangan kapasitas, dan kerja sama.

Meski demikian, pusat operasi keamanan siber nasional BSSN mencatat serangan siber di Indonesia terus naik. Serangan siber pada periode Januari hingga Agustus 2019 tercatat 39 juta kali. “Pada periode yang sama di 2020, total serangan sebanyak 189,9 juta atau hampir lima kali lipat kenaikannya,” kata Sigit.

Sigit juga menyebut ada 36.771 akun data yang dicuri sepanjang Januari hingga Agustus 2020. Target serangan tersebar di sejumlah sektor, termasuk sektor keuangan.

Indonesia menempati urutan ketiga dari 20 negara yang terkejang spam dan phishing pada 2019. Persentase serangan terjadi pada 5,8% dari total penduduk. Dilihat dari peta serangan phishing kuartal kedua 2020, Indonesia mengalami
serangan sebesar 7,6% dari total penduduk.

“Data BSSN 2020, memperlihatkan kerentanan dari sektor bank kerentanan siber terbesar ada pada minimnya security awareness dengan 49%,” kata Sigit. (Medcom/P-5)

BERITA TERKAIT