26 September 2020, 00:35 WIB

Medan dalam Lintasan Masa


Abdillah Marzuqi | Humaniora

KOTA dengan fasilitas pendidikan yang baik pastilah mengundang banyak anak muda untuk ke sana. 

Seolah magnet. Mereka akan menyemai lahan pengetahuan untuk menumbuhkan buah intelektual. Begitu pula kota yang disebut terbesar ketiga di Indonesia, Medan. Selayaknya sebuah kota besar, tak sulit menemukan bacaan sebagai rujukan ibu kota Sumatra Utara ini. 

Medan berjuluk Parisj van Sumatra, sebagaimana Bandung berjuluk Paris van Java. Sayangnya, harus diakui, jarang ada buku yang membahas Kota Medan. Itu pula yang menjadikan buku karya Usman Kansong berjudul Medan; Pasang Surut Peradaban Kota Perkebunan layak untuk dijadikan referensi wajib bagi pencari informasi terkait kota ini.

Buku ini bisa dibilang cukup komplet. Pencinta masa lalu, masa kini, dan masa depan, semuanya diajurkan membacanya. Mengapa? Mari mula dari pembabakan. Ada empat bagian, yaitu sejarah, perkebunan, manusia, politik dan ekonomi, serta literasi. 

Setiap bagian terdiri atas sejumlah bab. Bagi para pencinta masa lalu dan sejarah, penulis bakal menyajikan paparan tentang 1 Juli 1590 yang ditetapkan sebagai hari lahir Kota Medan. Lengkap dengan sejarah dan legenda pendamping tentang Guru Patimpus. 

Entah itu hanya seputar cerita rakyat pengiring atau fakta sejarah. Yang jelas, Monumen Guru Patimpus berdiri tegak di dekat Balai Kota Medan.  ‘Dalam bahasa lain, kisah pendiri Kota Medan itu ialah sejarah yang dibumbui dengan rupa-rupa legenda. 

Keberadaan sosok Guru Patimpus tentu sejarah, tetapi sejumlah detail kehidupannya legenda. Yang pasti, peran Guru Patimpus sebagai pendiri Kota Medan dianggap sebagai fakta, dipandang serupa sejarah, oleh masyarakat’ (hlm 12).

Sebelum masuk ke bahasan Medan sebagai kota perkebunan, juga dialurkan sejarah Kesultanan Deli. Digambarkan pula perkembangan Medan dari kampung kecil menjadi kota praja, lalu kota madya, hingga kota.

Pembaca akan diajak berkenalan dengan sebuah kampung kecil bernama Medan Putri, yang terletak di kawasan Sumatra Timur. Saat itu, posisinya sangat strategis karena terletak di antara Sungai Deli dan Sungai Babura.

Pembahasan tersebut akan membawa pada pertanyaan bagaimana Medan Putri menjadi Kota Medan yang kini menjadi kota metropolitan terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya? 

Jawaban atas pertanyaan itulah yang menjadi sentral pembahasan buku. Mulanya pembaca akan diajak berkenalan dengan sosok bernama Jacobus Nienhuys. Ia boleh dikata sebagai perintis yang mewarnai sejarah dan perkembangan perkebunan di Medan.

‘Bisa dikatakan Nienhuyslah yang mempromosikan tembakau Deli ke pasar dunia. Respons pasar yang antusias mendorong usaha tembakau berkembang pesat. Pada 1872 terdapat 13 perkebunan di Deli, 1 di Langkat, dan 1 di Serdang.

Sampai 1884 ada tambahan 12 perkebunan, yaitu Marindal, Peterburgs, Tanjungjati, Bandar Kalipah, Deli Tua, Kwala Begumit, Bekala, Belawan, Lubuk Dalam, Buluh, dan Kota Limbaru’ (hlm) 60.

Perkebunan memang mendatangkan banyak keuntungan, selain Medan yang memang tumbuh semakin besar. Di sisi lain, pekerja pun berdatangan dan didatangkan. Nienhuys mempekerjakan para kuli Tionghoa dan Jawa di perkebunannya. 

Mulanya kulikuli yang menebang hutan dan menanam tembakau didatangkan dari Tiongkok. Belanda bahkan sampai membeli 2 kapal uap untuk mengangkut mereka. Akan tetapi, pada 1910 kuli kontrak asal Jawa menjadi sangat dominan.

‘Belanda mendatangkan kuli kontrak dari Jawa, awalnya 5.000 hingga 6.000, cukup untuk dipekerjakan di kebun-kebun tembakau. Tetapi pada 1911 dan 1912, rata rata tiap tahun tiba di Deli 350.000 kuli Jawa’ (hlm 54).

Kehidupan kuli juga mendapat sorotan khusus. Hingga di perkebunan berlaku hukum Koelie Ordonantie. Hukum itu mengatur bahwa kuli yang melanggar hukum tersebut mendapat hukuman badan. 

Para kuli juga dieksploitasi secara maksimal dengan upah minimal. Taraf hidup mereka amat rendah. Dalam kondisi seperti itu, mereka menghibur diri dengan berjudi, mengisap candu, atau melacur.

Itu semua menjerumuskan mereka dalam utang, kemerosotan kesehatan dan kesejahteraan. Banyak mandor dan tandil memanfaatkannya dengan memberi pinjaman mencekik. Banyak kuli terjerat utang. 

Ini menguntungkan perusahaan perkebunan karena kuli-kuli itu akan terikat pada pekerjaan perkebunan. Selain istilah kuli yang muncul dari rahim perkebunan di Kota Medan, kelompok masyarakat yang disebut preman pun ternyata terlahir di kota ini.  Bahasan lengkapnya tentu dipaparkan pula oleh penulis.


Ide lama

Pada masa kini, pembaca akan menemui paparan terkait masa kini dalam bagian Politik dan Ekonomi yang terdiri atas dua bab. 

Bagian itu membeberkan karakter politik orang Medan, baik di masa kolonial, masa kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, maupun era Reformasi. Salah satu bab bertajuk Kota Dolar bakal mengungkap Medan yang pernah mendapat julukan daerah dolar dan dampaknya pada ekonomi rakyat.

Adapun bagi pencinta masa depan, buku ini akan membangkitkan kembali cita Parisj van Sumatra. Dalam Epilog: Menuju Kota Manusiawi, penulis memungkasi paparan lengkapnya tentang Medan. 

‘Perubahan struktural, melalui suprastruktur pejabat wali kota dan infrastruktur tata kota, akan menjadikan Medan sebagai kota yang dibayangkan Aristoteles sebagai ‘tempat bagi orang-orang untuk hidup, dan mereka menetap di dalamnya supaya bisa hidup lebih baik’. 

Perubahan struktural akan menjadikan Kota Medan dalam istilah Joel Kotkin dan Ali Modarres sebagai ‘kota manusiawi’ (human city)’ (hlm 270). Sebagaimana diungkap penulis dalam pengantar, menulis buku tentang Medan adalah keinginan kuat yang ada sejak lama. 

Butuh 5 tahun untuk bisa terbit. Buku itu adalah buah dari hasrat yang terpendam. Penulis memasukkan segalanya terkait Medan dalam buku itu. Hampir tak ada yang tertinggal, dari sejarah, perkembangan wilayah, fasilitas publik,  emasyarakatan, sastra, ekonomi, politik, hingga pers. 

Bahkan posisi Wali Kota Medan didominasi orang Mandailing atau Tapanuli Selatan (di luar pejabat sementara) pun tak luput dari perhatian penulis. Sebab itu, buku ini bukan kaleng-kaleng. Tak ada yang meragukan kekuatan hasrat. Energinya mampu melahirkan karya luar biasa. Begitu pun buku ini. (M-4)

BERITA TERKAIT