26 September 2020, 03:00 WIB

Hari Kontrasepsi Sedunia 2020 Perlu Perubahan Pola Pikir


Sudibyo Alimoeso Ketua Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) | Opini

MESKIPUN Indonesia penyumbang pemakai kontrasepsi terbanyak di dunia, banyak yang tidak tahu bahwa setiap 26 September secara global diperingati sebagai Hari Kontrasepsi Sedunia (HKS).

Padahal, peringatan ini, yang dimulai pada 26 September 2007, selalu dilakukan setiap tahun, melalui kampanye global menyuarakan hak-hak seseorang untuk bebas memilih alat kontrasepsi sesuai dengan kebutuhannya.

Kampanye global ini juga mendorong pendidikan yang lebih baik terkait dengan perilaku hubungan seksual yang sehat, aman, dan terlindungi sehingga tidak ada kehamilan yang tidak direncanakan, atau tidak diinginkan (unwanted pregnancy), yang sering disebut kehamilan tidak diinginkan atau KTD (Guterman, 2015), kelahiran tidak diinginkan atau tidak sesuai dengan waktu perencanaan, pemaksaan aborsi, serta keguguran (Sigh, et al, 2010).

Pada wanita dengan KTD, banyak bahaya yang mengintainya karena bisa secara fi sik dan terutama mental belum siap menerima kehamilan baik kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Dampaknya, wanita hamil menjadi tidak terlalu peduli pada janin dan bisa meningkatkan risiko bagi ibu dan bayi seperti preeklampsia, bayi malnutrisi, stunting, dan, bahkan, kematian ibu dan bayi yang dikandung.

Secara umum, jika seseorang sedang dalam masa reproduksi dan memiliki kehidupan seks yang aktif, ia seharusnya melengkapi diri dengan informasi yang tepat tentang kontrasepsi. Bicaralah dengan dokter atau bidan terlatih tentang berbagai metode kontrasepsi dan pilih salah satu setelah mempertimbangkan keamanan dan efek samping masing-masing.

Jika terjadi KTD, seseorang sudah seharusnya mendapat konseling dan dukungan, dukungan sosial psikologis, medis, dan bahkan manajemen pembedahan untuk aborsi sebagai pilihan alternatif terakhir (Burton, 2018).

 

Masih ada pekerjaan rumah

Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menyatakan bahwa pemakai kontrasepsi di Indonesia sekitar 62% atau sekitar 29 juta pasangan usia subur dan berhasil secara signifikan menurunkan angka fertilitas di Indonesia lebih dari 50% sejak 1970-an.

Dibarengi dengan menurunnya angka mortalitas dan meningkatnya angka harapan hidup, itu telah mengubah struktur dan komposisi penduduk Indonesia sehingga menghasilkan era bonus demografi (Bloom DE, Canning D, Sevilla J, 2003).

Ternyata, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terlebih dalam situasi pandemi covid- 19 saat ini. Pertama, persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need) saat ini sekitar 10,6% (SDKI 2017) atau sekitar 1,7 juta wanita usia subur tidak terlayani KB.

Dalam konsep yang baru, selain wanita yang sudah tidak ingin punya anak lagi, wanita yang ingin menunda kehamilan, atau yang tidak yakin apakah, atau kapan mereka ingin hamil (Nortman, 1982).

BKKBN memperkirakan, saat ini sekitar 17,5% terjadi KTD, perjalanan masih jauh jika memenuhi komitmen global hasil Nairobi Summit (2019), yaitu mencapai zero unmet need for family planning.

Kedua, komposisi pemakai kontrasepsi masih didominasi peserta KB hormonal, yaitu pil dan suntikan (sekitar 71%), atau sekitar 20 juta wanita yang memerlukan pelayanan ulangan setiap bulan atau tiga bulan sekali.

Tentu, sangat tidak mudah melayani mereka, apalagi dalam situasi pandemi covid-19. Terlebih, dibebani ada sekitar 8,9 juta peserta KB berhenti pakai kontrasepsi setiap tahunnya. Strategi yang jitu diperlukan agar tidak semakin terpuruk dan bisa-bisa terjadi baby boom tahap kedua.

Ketiga, untuk mencapai tujuan SDGs termasuk Family Planning 2020 (FP 2020), strategi program KB harus bisa memberikan pelayanan yang terbaik dengan pendekatan berbasis hak (rights based approach), menjamin pemakai kontrasepsi lebih nyaman, tanpa diskriminatif.

Keempat, kasus pernikahan dini marak, khususnya di berbagai dae rah yang tentu akan dapat meningkatkan angka kelahiran remaja. Saat ini angkanya sekitar 38 per 1.000 wanita dan harus dapat diturunkan.

Strategi yang tepat dan dapat diterima semua pihak diperlukan untuk meningkatkan pemahaman remaja dan calon pengantin terkait dengan kesehatan reproduksi dan penyiapan kehidupan berkeluarga.

Berbarengan dengan Hari Kontrasepsi Sedunia (HKS) 2020 ini, mungkin sudah saatnya dilakukan perubahan mindset agar tujuan SDGs dan Family Planning 2020 tercapai dengan melakukan pendekatan dari fokus pada akses ke kontrasepsi ke aspek kesehatan seksual (baca reproduksi) dan konteks sosial yang lebih luas. Pilihan ini semua tergantung kepada kita, Selamat Hari Kontrasepsi Sedunia!

 

BERITA TERKAIT