25 September 2020, 19:55 WIB

Sejarah Turtleneck, Tak Lepas dari Perempuan


Indrastuti | Weekend

Turtleneck menjadi salah satu item busana yang memiliki sejarah panjang. Perjalanan turtleneck erat kaitannya dengan perempuan figur publik yang tangguh dan memiliki pengaruh luas.

Item ini mulai terkenal ketika menjadi seragam bertanding atlet polo pada 1860, dan berlanjut hingga awal abad 19. Karakter fiksi Gibson Girl karya Charles Dana Gibson (1867–1944) yang disebut sebagai perempuan yang independen, atraktif dan aktif pun kerap digambarkan mengenakan turtlencek.

Baca juga: Jawara di DMZ Docs, ini Cerita Pembuatan You and I

Pada 1920-an penulis drama terkenal Noel Coward mempopulerkan turtleneck, dan dilanjutkan aktris Jayne Mansfield pada 1940-an hingga 1950-an. Ketenaran turtleneck pun diamini aktris Audrey Hepburn hingga First Lady  Jackie O. Kennedy. Pun, senator Amerika Serikat Alexandria Ocasio-Cortez yang vokal bersuara di parlemen sering mengenakan item ini di depan publik.

Turtleneck menjadi simbol menyuarakan pemberdayaan perempuan serta pencapaian perempuan yang memiliki pengaruh luas.

Melihat latar belakang itu, jenama fesyen Uniqlo Indonesia menggandeng empat sosok perempuan inspiratif, yaitu presenter Najwa Shihab, aktris Adinia Wirasti, produser Mira Lesmana dan penyanyi Cinta Laura, dalam kampanye Di Mata Perempuan untuk koleksi Fall/ Winter 2020 Heattech Fleece Turtleneck. Koleksi Heattech Fleece Turtleneck disediakan dengan berbagai warna yang sesuai dengan perempuan Indonesia.

Melalui kampanye Di Mata Perempuan, Najwa Shihab mendorong perempuan Indonesia untuk berani mengekspresikan diri serta menceritakan kisah hidupnya menggapai mimpi. 

Mata Perempuan melihat dan merenungi dunia dengan cara berbeda. Berbagai rintangan hadir di depan mata, termasuk dari dalam diri sendiri yang membuat perempuan memiliki perjalanan dan kisahnya masing-masing,” kata Najwa seperti dikutip dari siaran pers, Kamis (24/9).

Saling berbagi, kata Najwa, dapat menjadi sebuah langkah untuk saling menguatkan. “Mari berbagi dan saling berandil bagi perempuan lainnya, karena perempuan kuat itu yang menguatkan,” tuturnya. (RO/H-3)

BERITA TERKAIT