25 September 2020, 14:30 WIB

Uji Klinis Vaksin Sinovac Bisa Selesai Lebih Cepat


Bayu Anggoro | Nusantara

TIM uji klinis fase III vaksin virus korona Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung optimistis pengetesan bisa tuntas lebih cepat dari waktu yang ditargetkan. Tim dokter dari berbagai keahlian akan menuntaskan serangkaian tes terhadap 1.620 subjek pada Januari 2021.

Manajer lapangan tim uji klinis fase III vaksin covid-19 Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung Eddy Fadlyana mengungkapkan uji klinis ini akan tuntas bulan Oktober-November jika tidak ada kendala berarti.

"Dengan mengerahkan segala daya dan upaya, kita bisa menyelesaikan uji vaksin ini tiga bulan lebih cepat," katanya di Bandung, Jumat (25/9).

Menurut dia, akselerasi dari pengujian ini terjadi karena pihaknya menambah jam kerja dan jumlah sumber daya manusia. Jika di awal pihaknya hanya melibatkan 60 peneliti, kini terdapat sekitar 100 dokter dari berbagai keahlian. Selain itu, jam kerjanya pun ditambah hingga dua kali lipat.

"Jam kerja di lapangan juga ditambah. Yang semula hanya siang, sekarang menjadi pagi dan siang," ujarnya.

Pihaknya pun membekali berbagai pelatihan kepada setiap sumber daya manusia yang terlibat.

Dengan penambahan sumber daya manusia dan jam kerja, proses pendataan dan penyeleksian relawan bisa lebih cepat.

Baca juga: Unpad Sudah Siapkan Relawan untuk Uji Klinis Vaksin Sinovac

Hingga saat ini, menurut dia, sudah terdapat 1.000 relawan yang menjalani penyaringan sebelum diberikan vaksin.

"Untuk berapa total yang sudah divaksin, nanti diinformasikan lagi, karena sekarang masih terus dilakukan kegiatan," tuturnya.

Meski dipercepat, Eddy memastikan kualitas uji klinis vaksin yang dilakukan tidak akan berkurang sedikitpun.

"Bisa lebih cepat, tapi tanpa mengurangi kualitas," imbuhnya.

Terlebih, berdasarkan hasil uji klinis fase I dan II di Tiongkok, dia optimistis vaksin tersebut akan berhasil dan ampuh mengatasi pandemi ini.

"Pada fase I dan II, 90% kadar antibodi punya kekebalan," tukasnya.

Namun, pihaknya akan menyerahkan keputusan tersebut kepada BPOM selaku lembaga yang lebih berwenang. Termasuk adanya kemungkinan jumlah subjek/relawan uji klinis yang bisa saja berkurang jika vaksin terbukti ampuh dan berhasil.

"Badan POM yang akan menilai. Apakah cukup dengan 540 (yang sudah divaksin) untuk dijadikan izin, atau tetap menunggu sampai 1.620," pungkasnya.(OL-5).
 

BERITA TERKAIT