25 September 2020, 12:06 WIB

Perlu Ada Pembenahan Pasar agar tak Abai Protokol Kesehatan


Hilda Julaika | Megapolitan

HASIL riset Tim Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat Covid-19 di wilayah Jabodetabek melaporkan masyarakat di pasar sangat abai terhadap protokol kesehatan. Tercatat kepatuhan pada protokol covid-19 hanya mencapai 3%.

Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah menyebut hal ini perlu dibenahi karena akan memicu kalaster covid-19 yang tinggi.

“Nanti di perpanjangan PSBB klaster pasar perlu dibenahi. Kalau pasar sekarang tingkat kedisiplinannya masih rendah memang iya. Hasil riset itu membenarkan yang ada di lapangan,” kata Trubus saat dihubungi Media Indonesia, Jumat (25/9).

Adapun hal yang membuat ini terjadi, lantaran desain arsitektur pasar sangat ramah kerumunan sehingga memudahkan penyebaran covid-19. Pasalnya pada sebagian besar pasar di Indonesia terutama pasar tradisional termasuk modern hanya memiliki 2 pintu untuk masuk dan keluar. Padahal idealnya memiliki pintu dengan 4 arah apalagi dalam masa PSBB di tengah pandemi ini.

“Karena pasar-pasar di kita terutama pasar tradisional termasuk pasar modern desain arsitekturnya itu sifatnya berkerumun. Misalnya untuk fashion di satu tempat khusus, begitupun untuk makanan jadi lebih mudah berkerumun,” ujarnya.

“Tapi pintunya itu cuma satu atau dua pintu masuk-keluar. Harusnya paling nggak pintunya 4 arah. Pasar-pasar kita hampir sebagian besar pintunya depan belakang saja," imbuhnya.

Sehingga dalam jangka panjang, menurut Trubus, perlu ada pembenahan desain arsitektur pasar. Agar bisa mengurangi potensi kerumunan.

Baca juga:  Masyarakat Pasar Abai Jaga Jarak

Sementara itu, untuk jangka pendek di tengah pandemi covid-19 ini, diperlukan pengaturan khusus. Seperti antara toko penjual wajib ada penyekatan, termasuk antara penjual dan pembeli. Sehingga transaksi bisa lebih mudah untuk diatur. Hal ini, ucap Trubus, sudah diterapkan di pasar-pasar yang ada di Yogyakarta dan Salatiga.

“Kalau pembeli mau beli juga ada jarak pembelinya, di dalam ada sekatnya juga. Jadi pembeli dan penjual gak kontak langsung, ada sekatnya. Itu cara untuk mengatasi dalam jangka pendek,” jelasnya.

Ia pun mengusulkan ada pola belanja khusus di pasar. Polanya seperti pembeli menunggu di pintu masuk lalu nanti menyampaikan daftar belanja yang akan dibelinya ke petugas. Lalu petugas akan menyampaikan kepada penjual. Untuk kemudian penjual akan membawa belanjaan untuk pembeli.

“Tapi memang ini dibutuhkan saling pengertian dan kejujuran. Pembelinya kadang merasa kalau dibohongi gak sesuai yang dipilih ini memang dibutuhkan. Tapi kalau gak cocok bisa dikembalikan seperti merasa kurang segar atau layu nanti tinggal penjualnya kembali lagi ke dalem ambil yang baru,” usulnya.

Sementara itu, untuk kegiatan seperti sosialisasi, edukasi, dan komunikasi harus terus digencarkan di pasar. Karena masyarakat kelas bawah masih banyak yang lalai dan abai pada protokol kesehatan untuk mencegah covid-19.(OL-5)

BERITA TERKAIT