25 September 2020, 11:42 WIB

Pertanian di Tengah Pandemi di Mata Petani Milenial


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

PETANI asal Cianjur yang juga dinobatkan menjadi Duta Petani Milenial, Sandi Octa Susila, menilai pandemi Covid-19 ini bisa menjadikan sektor pertanian sebagai ancaman, peluang, sekaligus tantangan.

"Apabila sektor pertanian tidak bisa disentuh oleh digitalisasi maka akan menjadi ancaman besar, tapi kalau dekatkan teknologi maka akan menjadi peluang yang besar, kalau tidak didekatkan maka akan menjadi tantangan," kata Sandi saat dialog santai Nunggu Sunset bertajuk Muda, Keren, dan Bertani yang diadakan Media Indonesia, Kamis (24/9).

Baca juga: Menjadikan Berkebun Sebuah Norma Bukan Tren

Sandi mengungkapkan dengan adanya wabah Covid-19 ini membuat para petani mau tidak mau memanfaatkan media sosial untuk pemasaran agar hasil tani bisa terjual lebih cepat.

Diketahui bahwa penjualan hasil tani saat masa pandemi membuat angka penurunan yang signifikan. Oleh karena itu, penjualan hasil tani bisa didistribusikan melalui teknologi.

"Kita harus membuat strategy emergency exit dengan membuat market place baik melalui sosial media facebook, instagram atau bekerja sama dengan e-commerce tertentu itu yang menjadikan di tengah pandemi sebagai peluang," paparnya.

Apabila petani hanya mengandalkan kearifan lokal dalam penjualan seperti panen dan menunggu tengkulak, kemudian dijual di pasar tradisional maka suatu waktu bisa mengalami keruntuhan.

"Sehingga di tengah Covid-19 ini kita tidak bisa menghindar. Tetapi bekerja semaksimal mungkin dan menangkap peluang yang ada," jelasnya.

Selain itu, Sandi menilai petani milenial mampu beradaptasi dengan kondisi zaman saat ini sehingga petani milenial dituntut untuk menggandeng petani terdahulu untuk memasarkan produknya.

"Karena masih banyak petani yang bisa menanam dan memanen tetapi tidak bisa menjual, dan posisi petani milenial lah yang ada di sana. Fungsi-fungsi milenial yang menjadi fokus pemerintah untuk dikerahkan," jelasnya.

Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat harus memberikan kesempatan kepada milenial. Apabila saat ini generasi petani milenial tidak diberi kesempatan untuk berkembang maka kedepannya akan ada darurat petani.

"Kementerian Pertanian saat ini sedang mengadakan youth and eunterprenership system (Yes program) untuk mengembangkan petani milenial," tukasnya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Simak obrolan Media Indonesia bersama Siti Soraya Cassandra, Co-Founder dari Kebun Kumara dan Sandi Octa Susila, petani asal Cianjur yang juga dinobatkan sebagai Duta Petani Milenial Indonesia oleh Kementerian Pertanian 2019. Seperti yang disampaikan oleh Sandra (@kebunkumara), yang terpenting menjadi apapun kita, termasuk memilih menjadi seorang petani harus memiliki pemahaman yang lebih lestari dan menjunjung nilai-nilai yang holistik. Jangan sampai menjadi petani yang memiliki pola pikir yang serakah yang nantinya justru berdampak buruk bagi pertanian Indonesia. Diharapkan juga dengan munculnya role model petani-petani milenial seperti Sandi (@sandioctas) bisa menjadi penyemangat dan lebih optimistis menatap target Indonesia menjadi lumbung pangan dunia tahun 2045. Sudah saatnya estafet petani selanjutnya berada pada pundak generasi muda, kalian yang punya inovasi dan gagasan kreatif sangat dinanti bagi kelangsungan pertanian di Indonesia. Selamat Hari Tani Nasional!

A post shared by Media Indonesia (@mediaindonesia) on

(OL-6)
 

BERITA TERKAIT